Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya, entah perasaan apa yang membuat ku lelah seperti habis berlari kencang. Saat itu yang ku ingat adalah, kata-kata cacian yang ku terima dari seorang wanita yang ku cinta. Nama nya anggi, teman satu kelas ku saat kuliah 2 tahun yang lalu. Dia wanita karir yang bekerja di salah satu perusahaan swasta di jakarta, sedangkan aku seorang yang sibuk dengan usahaku yang sudah aku rintis semenjak kuliah.
Aku ingat sekitar 4 tahun yang lalu, aku berusaha merintis usaha pulsa keliling. Ya, jualan pulsa adalah usaha pertamaku di kampus. Setiap hari ada saja teman yang membeli pulsa dariku, tapi lebih sering mereka berhutang yang akan di bayarnya setiap awal bulan.
"Bro, kirim pulsa ya 25ribu, bayarnya biasa bulan depan.." saat aku baca pesan singkat dari temanku yang minta di kirimi pulsa seperti biasanya. Tanpa aku balas, aku langsung kirim pulsa sesuai yang dia minta. Singkat cerita usahaku mulai berkembang, dan aku buka konter pulsa di rumah orang tuaku.
2 tahun kemudian aku lulus kuliah dan mulai menjalani usaha konter yang aku anggap bisa membantu kedua orang tuaku yang hanya seorang pensiunan guru dan ibu rumah tangga. Penghasilanku bisa di bilang lumayan, setiap hari 300 ribu pulsa habis terjual, belum lagi dari teman-teman yang menjadi langganan pulsaku.
Aku ingat, ketika kuliah, aku berkenalan dengan wanita yang kemudian ku kenal dengan nama anggi. Dia pintar, mandiri dan tentu nya cantik dengan rambut panjang yang lurus terurai. Kemudian aku memutuskan untuk melamarnya setelah kita berpacaran selama 1 tahun lebih.
Awalnya dia sangat perhatian kepadaku, dia juga pintar sekali memasak. Setiap hari aku di masakannya makanan kesukaanku, sayur asem dan ayam kecap. Benar, itu memang sederhana tapi buatku special karena istriku sendiri yang memasak.
"Sayang, makasih ya.." puji ku kepada istriku, dia hanya menjawabnya dengan senyum manisnya, sungguh beruntung aku punya istri sebaik dia.
Beberapa bulan setelah pernikahan kita, istriku meminta ijin kepadaku untuk bekerja karena mungkin bosan di rumah hanya sebagai ibu rumah tangga. Dan juga katanya dia ingin bantu keuangan keluarga, agar kelak bisa beli rumah sendiri. Iya, kami memang setelah menikah langsung memutuskan untuk mengontrak rumah, karena kami pikir ingin membangun rumah tangga yang mandiri tanpa bantuan orang tua atau mertua.
Akhirnya aku mengijinkannya untuk mencari kerja di luar, sedangkan aku masih tetap dengan usaha konter pulsaku yang memang akhir-akhir ini sepi. "Iya aku ijinkan kamu kerja, asalkan kamu bisa jaga diri dan tetap kewajiban kamu sebagai istri tidak kamu lupa.." jawabku saat itu. Dia tersenyum, menarik tangan kananku dan menciumnya. Aku pikir ini keputusan yang tepat, walaupun aku sempat ragu jika nanti dia bekerja di luar pasti pekerjaan di rumah terabaikan.
Benar saja, baru satu minggu dia bekerja, pekerjaan di rumah banyak yang tak terpegangnya, akhirnya aku yang tiap kali dia pulang larut malam yang membereskan pekerjaan di rumah. Memang saat itu aku memakluminya karena dia bilang, pekerjaan kantornya banyak dan harus lembur.
Beberapa minggu setelahnya aku merasa istriku bukan wanita yang ku kenal dulu, dia yang lembut, perhatian dan sifat-sifat baik yang ku banggakan dulu sekejap berubah. Dia tak pernah lagi memperhatikanku, bahkan tiap malam aku tidur seperti sendirian. Dia juga beberapa kali pernah ku pergoki sedang mengobrol di telpon dengan siapa aku pun tak tahu. Tapi kelihatannya dia senang dan tak jarang dia pun pergi entah kemana dan bersama siapa. Aku masih saja memakluminya karena rasa percayaku kepada istriku. Namun entah kenapa aku merasa istriku sangat berubah, bahkan dia begitu tak menghormatiku sebagai suaminya.
Suatu hari aku menunggunya pulang di depan pintu, dan benar saja dia pulang larut malam lagi. Jam menunjukan pukul 2 dini hari, dia pulang dan tanpa rasa bersalah dia tak meminta maaf kepadaku bahkan dia sangat marah ketika ku tanya dari mana. "Aku tuh capek tau, seharian kerja, kamu ga usah tanya aku dari mana.." cetus dia kepadaku.
Aku lagi-lagi mengalah dan tak memperkeruh keadaan. Hembusan nafasku terasa dan seakan penyesalan begitu mendalam. Andai saja dulu tak ku ijinkan dia kerja di luar, mungkin keadaannya berbeda.
Hampir satu tahun semenjak dia bekerja di luar, sejak itu pula sikap dia berubah. Aku yang saat itu menjadi suaminya selalu saja mengalah, sampai akhirnya aku ambil sikap dan coba memintanya untuk berhenti dari pekerjaannya. "Dari dulu aku selalu mengalah, kamu berubah, bahkan sepertinya kamu lupa akan kewajibanmu sebagai istriku!" kataku kepadanya. Dia hanya diam lalu pergi ke kamar dan tidur. Sungguh habis kesabaranku, aku memang suami yang selama ini mengalah sama istriku. Tapi itu ku lakukan demi rumah tanggaku yang hampir dua tahun ini belum juga di karuniai seorang anak. Karena memang tiap malam aku seperti tidur seorang diri.
Istriku tetaplah istriku, walaupun sikapnya berubah sangat drastis aku tetap mencintainya. Buktinya aku tak pernah berhenti berdoa untuknya, karena aku ingin dia sadar dan kembali seperti pertama kali aku mengenalnya. Entahlah apa mungkin dia bisa seperti dulu lagi atau tidak, tapi setidaknya aku berusaha untuk jadi suami yang baik untuknya.
Hari itu tepat pada hari ulang tahunnya, aku ingat itu hari minggu. Sebelumnya pada hari sabtu aku mempersiapkan sebuah kejutan special di rumah, dan sengaja aku tunggu dia pulang dari kantor. Namun yang terjadi, katanya dia harus keluar kota untuk meeting bersama atasannya. Aku sudah mencoba melarangnya untuk pergi, tapi dia tetap saja pergi. "Sudah aku bilang, aku harus pergi !" katanya kepadaku saat aku coba menyuruhnya untuk pulang. "Apa ga bisa kamu ijin sama atasanmu?" Tanyaku lagi. "Kamu gak ngerti? Aku kerja! Kerja! Okeh? Udah ya aku mau berangkat!" katanya dan telpon pun di tutup.
Rasanya seperti di tusuk-tusuk jarum beberapa kali, pedih, dan jujur aku kecewa dengan sikap istriku kepadaku. Sebagai seorang istri harusnya dia bisa bersikap lembut terhadap suaminya, tapi kenyataannya sebaliknya dan aku pun selalu mengalah, bahkan tak bisa bersikap tegas. Hembusan nafasku yang rasanya susah dan sesak, heemmmm sabar, dalam hatiku berkata demikian.
Makan malam dengan suasana romantis pun sia-sia karena dia tidak pulang. Aku yang saat itu duduk diam menatapi meja makan yang sudah ku hias dengan beberapa lilin dan makanan yang aku masak sendiri. Sungguh berat keadaan seperti ini, rasanya ingin ku akhiri saja semuanya. Tapi pikiranku masih sangat normal, dan tentu saja tidak mungkin aku melakukannya. Pisau itu kemudian aku lempar, setelah sebelumnya sempat berada di dekat urat nadiku. Aku menangis malam itu, dengan tatapan kosong yang seakan tak tau apa yang kupikirkan. Air mata tanpa terasa mulai membasahi pipiku, suara air hujan turun pun mulai terdengar di luar rumah. Kemudian seketika gubrakkkkkkkk!!! aku singkirkan semua yang ada di atas meja. Dan sangat kacau! Iya, semua berserakan, piring, gelas, pecah, makanan pun semua ada di bawah. Sepertinya memang ini puncak kesabaranku, dan meledak di malam itu.
Jam tepat menunjukkan pukul 12 malam, saat alarm handphone ku berbunyi membangunkan aku dari tidurku. Dan aku buka untuk mematikannya, ku lihat handphone ku dengan tulisan "ulang tahun istriku sayang" lalu ku matikan. Sempat aku terdiam, namun perlahan tanganku mulai mengarah pada pesan singkat. Aku mulai menulis, tapi tidak jadi. Akhirnya ku putuskan untuk menelpon nya, dan panggilan pertama tak di jawabnya. Benar feelingku dia masih marah, atau mungkin dia masih di jalan dan handphone nya ada di dalam tas. Aku coba telpon lagi, dan tetap saja tidak di angkat. Ketiga kalinya aku telpon dia lagi, dan kali ini ya Tuhan nomornya tidak aktif. Padahal baru saja aku telpon, kenapa sekarang? Oh mungkin jaringan atau gangguan. Aku telpon lagi dan lagi beberapa kali dan benar "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.." itu saja yang aku dengar.
Baiklah, mungkin dia tidak mau di ganggu dan akhirnya ku putuskan untuk mengirim pesan singkat saja. "Istriku sayang, take care yaa. Kabarin aku kalau sudah sampai. Aku cuma mau bilang, happy birthday yaa sayang. Tadinya aku udah siapin semuanya di rumah, special buat kamu, tapi ya udah gak apa-apa kamu kan sibuk. Aku tunggu kamu pulang ke rumah yaa. Love u.." tulisku dalam pesan singkat itu.
Begitulah cinta kadang membutakan mata, walaupun istriku sikapnya begitu aku tetap sayang kepadanya. Aku berusaha mengerti keadaan dan mungkin harus selalu mengalah.
Malam itu telah pergi, dan pagi pun datang, ku lihat jam menunjukkan pukul 8 pagi. Aku lalu melihat handphoneku dan berharap pesan singkatku di balas istriku. Aku buka, dan ternyata ada 2 pesan masuk. Aku senang, tapi saat di baca ternyata bukan dari istriku. Pesan nya dari pelangganku yang seperti biasanya meminta isikan pulsa. Hemmm aku tak habis pikir kenapa istriku tak membalas pesanku, padahal pesannya terkirim. Tapi mungkin nanti siang dia balas, pikirku dalam hati. Namun tak kunjung juga ada balasan, saat ku lihat jam menunjukkan pukul 2 siang. Aku masih sabar menunggu, sampai sore bahkan malam. Tapi kenyataan tak selalu sesuai dengan harapan, dan aku mulai berpikir untuk menelponnya.
Ketika itu tiba-tiba dering handphone ku berbunyi, dan ku lihat ternyata istriku menelpon. Aku langsung mengangkatnya dengan perasaan senang, "halo sayang.." ucapku merdu. "Kamu gak usah gangguin aku! Aku tuh lagi kerja! Gimana kalo bos ku marah? Terus aku di pecat?" suara dengan nada keras yang ku dengar memang istriku. "Maaf, iya aku gak akan gangguin kamu lagi.." kataku dengan nada mengalah dan pelan. "Kamu kapan pulang?" tanya ku lagi. "Halo sayang, halooo..." aku tak mendengar suaranya dan ternyata tut.. tut.. tut telponnya mati. Ya Tuhan sampai hati dia begitu kepada suaminya sendiri. Apa salahku? Kenapa dia begitu teganya memperlakukanku seperti itu? Tanyaku dalam hati.
Akhirnya hari itu lewat begitu saja, ucapan ulang tahun dariku juga di abaikannya. Entahlah rasanya seperti bukan dia saja, dia memang berubah bahkan lebih dari itu. Aku tak mampu berkata-kata lagi, aku juga begitu lemah dan selalu mengalah. Semua itu kulakukan karena aku sangat mencintainya, aku juga tak ingin rumah tangga kami rusak dan hacur. Aku ingat pesan ibuku (alm) saat beliau masih ada, "kau jaga istrimu, perlakukan dia lemah lembut, jangan kasar.." "iya bu, pasti aku ingat apa kata ibu.." jawabku mengiyakan pada ibuku.
Tapi sungguh berat keadaan seperti ini, aku tak tau mesti bagaimana. Ini bagaikan memakan buah simalakama, serba salah. Bila sikapku keras, pasti dia meminta cerai dan ingin berpisah seperti dulu. Saat itu aku memang salah, nada bicara ku sangat tinggi dan dia menangis ketakutan. Tapi waktu itu sebelum dia kerja, sebelum dia berubah.
****
Aku rasa kebahagianku berubah ketika aku mulai bekerja, dan suamiku masih dengan usahanya. Memang keuangan kami terbantu saat aku berkerja di luar, karena suamiku akhir-akhir itu sepi pendapatannya. Keluarga kami memang masih mencukupi kebutuhan, untuk makan dan hari-hari aku masih bisa mengaturnya dari nafkah suamiku yang aku rasa sangat pas-pasan. Sungguh berat lagi ketika kami memutuskan untuk membeli rumah secara kredit, dan aku yang hanya ibu rumah tangga pada waktu itu merasa tak bisa berbuat banyak. Akhirnya dengan memberanikan diri meminta ijin kepada suamiku, aku ingin bekerja dan ikut membantu keuangan rumah tangga kami.
Awalnya, sebelum bekerja waktuku sangat banyak, bahkan aku merasa bosan di rumah. Itu salah satu alasan aku ingin bekerja di luar. Tapi setelah beberapa hari mulai bekerja, ternyata sungguh berat mengatur waktu antara pekerjaan di kantor dan di rumah. Rasa capek pun selalu datang ketika aku pulang dari kantor, dan terpaksa aku harus langsung beristirahat tanpa tau ternyata suamiku lah yang mengurus rumah kami sendirian.
Aku mulai cuek pada suamiku, bahkan sering kali kami bertengkar hebat karena masalah kecil yang menurutku tak perlu di perdebatkan lagi. Aku yang lebih sering marah-marah sama dia di rumah, padahal hati kecilku menentangnya karena dia tetap lah suamiku yang mesti aku hormati dan hargai. Tapi mungkin ego dan rasa lelah yang membuatku keras kepala, dan kadang ingin menang sendiri.
Aku ingat ketika itu suamiku menelpon ku saat aku sedang berada di ruangan meeting dengan atasanku. Aku tak mengangkatnya, karena ku pikir nanti aku akan telpon dia. Tapi handphone ku tak berhenti berbunyi dan itu panggilan masuk dari suamiku, dengan sangat terpaksa aku nonaktifkan handphoneku malam itu. Kebetulan sekali atasanku meminta ku untuk menemaninya keluar kota untuk bertemu kline yang tak dapat aku tolak, akhirnya aku mengiyakan. Setelah meeting selesai, aku aktifkan kembali handphoneku untuk mengabari suamiku. Dan kembali kami bertengkar di telpon, alasannya menurutku dia tak mengerti kondisi aku yang harus pergi ke luar kota. Dia sempat membujukku memang, tapi karena aku yang akhir-akhir ini sibuk dan capek terpancing emosi dan marah. Dengan sadar aku membentak-bentak suamiku oh my god, dalam hatiku menangis sebenarnya dengan sikapku yang begitu pada suamiku.
"Aku kerja! Kerja! Okeh?" itu kata terakhir yang ku ucapkan kepadanya dengan nada yang lumayan tinggi. Malam itu ternyata dia cuma mau aku pulang, dia udah siapin semuanya. Sungguh penyesalan ku yang teramat dalam, tapi nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi. Besoknya aku mulai berpikir mau meminta maaf kepadanya, atas sikapku yang keterlaluan. Namun saat itu atasanku meminta ku untuk fokus di kerjaan dan agar tender ini goal. Akhirnya aku mengiyakan untuk fokus, dan dengan sadar aku telpon suamiku yang lagi-lagi dengan nada keras. Aku memintanya untuk jangan mengganggu ku yang sedang kerja. Aku bilang juga gimana kalau aku di pecat? Dan dia akhirnya mengerti, walaupun begitu aku menangis tak kuasa menahan rasa bersalah pada suamiku. Karena tak ingin ketahuan, aku matikan saat itu telponnya walaupun pembicaran kita belum selesai. Ku pikir dia pasti sangat kecewa, dan rumah tanggaku pasti bakalan hancur.
Sepulangnya dari luar kota beberapa hari, aku pulang ke rumah dan dengan sangat terkejut suamiku menunggu dan menyambutku dengan sangat ramah seperti tak ada masalah di antara kita. "Kamu udah pulang sayang? Pasti cape kan? Aku buatin kamu minum yaa.." kata suamiku dengan senyum terbaiknya kepadaku. Aku yang hanya diam dan benar-benar tak menyangka akan seperti ini, dan dia memperlakukanku seperti seorang putri raja. "Kamu kok jadi baik begini sama aku? Harusnya kan kamu kecewa dengan sikap aku selama ini?" tuturku dengan lembut. Dia ku lihat hanya tersenyum, yang membuatku makin aneh. "Kok senyum? Kamu sakit mas?" tanyaku pada suamiku. "Gak kok sayang, aku cuma seneng aja kamu baik-baik dan pulang ke rumah dengan keadaan utuh.." katanya kepadaku sambil menggenggam tanganku dengan mesra. Aku membalas senyumannya dan tiba-tiba air mataku menetes tak kuasa aku menahannya. Mas Reza, suamiku, memang suami yang sangat baik dan bahkan tak pernah kasar seperti orang-orang yang kadang kena pukul suaminya.
Ku cium tangan suamiku, dan dengan penuh penyesalah aku meminta maaf kepadanya. "Aku minta maaf mas, aku gagal jadi istri yang baik buat kamu.." ujarku sambil menangis tersedu-sedu menyesali sikap aku selama ini kepadanya. "Aku janji, aku janji mas, aku akan perbaiki semuanya.." kataku lagi, seraya berjanji akan memperbaiki rumah tangga kami, dengan merubah sikapku. "Aku sudah putuskan untuk keluar dari kantorku mas, aku mau berhenti.." ku tatap wajahnya yang ku lihat dia diam melihat kearahku. "Aku ga mau kehilanganmu mas, aku ga mau rumah tangga kita rusak.." bujukku lagi. "Sayang.. Kamu ingat ga? Ketika kita menikah dan saling berjanji di hadapan Tuhan. Kita akan selalu setia sampai akhir, sampai Tuhan menjemput. Aku juga sudah janji sama kamu untuk selalu jaga kamu dengan baik, aku juga janji sama alm. Ibu ku, ga akan tinggalin kamu apapun keadaannya.." bisik suamiku dengan tangan kanannya yang memegang pipiku lembut. Aku tak kuasa, ku peluk suamiku dan menangis terharu. Entah perasaan apa waktu itu yang ku rasa, antara menyesal, sedih, seneng atau apa. Yang jelas aku mencintai suamiku, bagiku dia adalah surga yang ku miliki, surga yang begitu indah, surgaku ada di suamiku. Aku sangat beruntung memilikinya, dia yang selalu memperjuangkan dan mempertahankan rumah tangga kami.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar