Iklan

AdSense

Senin, 11 Juli 2016

Sejarah Titik Nol Kilometer Anyer - Panarukan

Hallo sahabat, kali ini tulisanku-ini membahas tentang wisata sejarah Titik nol km Anyer - Panarukan yang mungkin akan menjadi destinasi liburan sahabat selanjutnya. Untuk sahabat yang suka Travelling atau jalan-jalan sekaligus juga berkenalan dengan sejarah, tempat ini dirasa cocok dijadikan tujuan.
Tugu nol km Anyer - Panarukan

Selain di kenal keindahan pantainya, anyer pun mempunyai daya tarik tersendiri dengan Mercusuar-nya yang berdiri kokoh di pinggir jalan. Dibelakangnya, terdapat tugu nol km Anyer - Panarukan dekat bibir pantai yang cukup membuat mata sahabat "tersihir" akan birunya air laut dan langit di atasnya (kalau cuaca bagus sih).

Tugu nol km Anyer - Panarukan

Saya pun memang baru sekali berkunjung kesana, belum lama ini, sekitar bulan Desember 2015. Itu pun tidak di sengaja, karena pada saat itu tujuan saya bukan kesana. Tetapi melihat banyak wisatawan yang masuk, mulai dari mobil ber-plat B (Jakarta) sampai dengan bule dengan tas ala backpacker yang mampir juga kesitu, akhirnya saya pun ikut masuk (penasaran juga sih pengen tau).

Sebelum masuk kedalam (area parkir mobil/motor), saya sempatkan untuk makan siang (dulu) di resto yang tepat berada di sebrang jalan. Lagi-lagi karena tempat makan nya rame (bohong! bilang aja lu laper) dan biasanya itu enak, betul ga sahabat? :)) Btw waktu itu saya bareng pacar kesana nya sahabat (gak penting! Kenapa dibahas juga?).

Setelah selesai makan, akhir tiba saat nya untuk masuk kedalam. Daaannnn........
Ternyata parkiran penuh loh sahabat (ampe pusing nyari tempat kosong) tapi syukurnya ada orang yang keluar, jadi ada tempat kosong kan hehe.

Kembali ke topik, Titik nol km Anyer - Panarukan sejarahnya yang saya baca ternyata tempat pertama kalinya Herman Willem Daendels menginjakkan kakinya di Indonesia, dan itu disini, Banten. Dalam sejarahnya, Daendels merupakan Gubernur Jendral Hindia Belanda ke 36 yang memerintah dari Tahun 1808-1811. Selain membangun rute Batavia - Banten, pada Tahun 1809-1810, juga membangun jalan dengan panjang 1000 km dari Anyer - Panarukan. 

Kemudian Daendels membangun sebuah Mercusuar, yang pada akhirnya juga hancur ketika terjadi tragedi Krakatau Tahun 1883. Tidak lama setelahnya, atau dua tahun kemudian, dibangun kembali Mercusuar tersebut oleh Raja Belanda pada saat itu Z.M Willem III yang sampai saat ini masih berdiri kokoh. Menara ini juga membantu para kapal-kapal yang berlayar pada waktu malam, agar tidak tersesat akhirnya ~ (mirip lagu siapa ya?)

Mercusuar Anyer

Mercusuar ini memiliki tinggi 75, 5 meter dengan jumlah lantai 18. Di lantai paling atas ada lampu suar dengan penutup setengah bola yang bisa berputar 360 derajat. Lampu ini sahabat, cahayanya, katanya bisa menjangkau sampai dengan 20 mil (wow gitu). Tapi saya juga memang belum pernah masuk bahkan naik ke lantai paling atasnya, karena terus terang saya takut ketinggian sahabat (ngeles! bilang aja waktu itu rame, males antri, atau emang ga mau). Kalau cuaca cerah, kalian bisa melihat birunya air laut selaras dengan langitnya, begitu saya saksikan waktu itu sahabat. Memang tidak disarankan untuk berenang (apa lagi menyelam) karena ditempat ini karang dan batunya besar sahabat (sampe buat di pake moto juga bisa).
 
foto di atas batu karang hihi

Percis (tepat, red) di belakang foto di atas menunjukan seperti jalanan di tengah air laut? Iya! Betul sahabat! Bagi yang belum pernah, langsung aja cek beberapa gambar berikutnya yang saya abadikan menggunakan kamera hp. Jadi kualitas gambarnya seadaanya ya (yang penting kan moment tidak terlewatkan). Langsung aja check this out!
tampak depan
tampak belakang

Akhirnya catatan tulisanku-ini tentang Titik nol km Anyer - Panarukan sampai disini saja sahabat, mungkin lain kali dapat kita bahas tentang sejarahnya lebih detail lagi. Saya disini hanya berbagi saja, kebetulan juga memang pernah kesana. Mungkin lain kesempatan saya bisa kesana lagi (kalo ada yang mau nemenin hehe) terakhir dari saya, "Mari kita belajar dari sejarah, karena dengan kita tahu sejarah, kita dapat menghargai sejarah.." 

Terimakasih 

Minggu, 10 Juli 2016

Travelling Blogger #1 Lombok - Jogja - Semarang


Hallo sahabat, tulisanku kali ini bercerita tentang Travelling blogger #1 Lombok - Jogja - Semarang.
Masjid Agung Semarang, Jawa Tengah
Sebenarnya tulisan ini adalah cerita lama yang pernah saya share di facebook atau instagram, beberapa gambar/fotonya pun pasti sahabat langsung tahu dimana di ambilnya.

Sahabat, tujuan saya menulis cerita ini tidak lain hanya ingin belajar menulis, yang memang sengaja saya tuangkan dalam ruang publik. Selain itu mungkin bisa bermanfaat, sebagai bahan referensi jalan-jalan sahabat semua kelak.

Awalnya hobi travelling ini dari "ketidaksengajaan" saya dalam mengikuti sebuah program dari salah salah satu kementerian. Program yang penugasannya di tempatkan di sebuah daerah di luar pulau jawa, bersamaan dengan itu saya mulai menjelajah dunia baru. Dunia yang membuka mata saya dan menegaskannya, bahwa Indonesia itu indah.

Sahabat tentu setuju bahwa keindahan Indonesia, negara kita, sangat bermacam potensi dan ragamnya. Mulai dari alamnya, baik gunung, bukit, puncak, laut, sungai, dan yang lainnya bahkan sampai dengan kulinernya.

Kali ini saya akan share pengalaman saya tentang wisata religi dan wisata sejarah, belajar memahami keragaman, kebudayaan dan sejarah bangsa kita lewat perjalanan.

Tanggal 07/05/2015 saya memutuskan untuk memulai perjalanan ini dari tempat tugas saya di Lombok, NTB, menuju Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Memang saya sengaja berangkat lebih awal, walaupun pesawatnya baru berangkat keesokan harinya (08/05). Pukul 16.00 selepas shalat asyar saya memutuskan berangkat menuju Bandara International Lombok (BIL).
Airport, Lombok Tengah
Di Airport, semalaman saya berada disana (karena memang take off nya pun besoknya) dan memutuskan "begadang" alias tidak tidur, setelah tahu di airport wifi (free) tidak dimatikan. Alhasil waktu itu saya menghabiskan malam dengan ditemani smartphone dan tentunya free wifi. Sepanjang malam saya menikmati fasilitas airport lombok tersebut dengan memakainya untuk download film (saya lupa film apa).
Boarding Pass
Cek In, Airport Lombok
Keesokannya, atau sekitar jam 04.50 saya cek in dan boarding sampai sekitar 05.30 petugas dari maskapai tersebut meminta kami langsung menuju ke pesawat. Dan tentu di pesawat saya langsung tidur, hehe dan sekitar pukul 07.00 saya sudah berada di bandara adi sucipto Jogja. Wah.. Perasaan cepet banget perjalanan Lombok - DIY pagi itu sekitar kurang dari dua jam. Iya, mungkin karena perbedaan waktu Indonesia bagian tengah lebih cepat 1 jam dari pada waktu Indonesia bagian barat.
Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta



Di airport, di jogja, karena mata masih ngantuk, akhirnya saya putuskan untuk cepat mencari penginapan. Mencari penginapan yang nyaman dan tentunya terjangkau di jogja tidak sulit, kebetulan di sekitaran Jl.Malioboro banyak penginapan yang sesuai "kantong" saya. Termasuk untuk mencari jasa sewa motor pun mudah dan banyak, syaratnya KTP atau kartu tanda pengenal yang jadi jaminan. dan harga sewa nya pun relatif, sekitar 70-85 ribu per hari tergantung jenis motornya juga.
Jl. Malioboro, Yogyakarta
Keesokan harinya (09/05), saya langsung meluncur ke Semarang menggunakan sepeda motor, tujuannya wisata religi dan sejarah. Setelah sebelumnya saya melihat dan membaca beberapa artikel tentang itu. Wisata religi yang saya maksud tentu tempat-tempat ibadah/keagamaan. Yaitu, Masjid Agung Semarang Jawa Tengah, Sam Po Kong, Vihara Buddhagaya Watugong, Candi Gedong Songo, dan Lawang Sewu. 

Perjalanan Jogja - Semarang pada waktu itu mengandalkan GPS untuk mencari lokasi pertama yaitu Masjid Agung Semarang Jawa Tengah. Alhasil, perjalannan nya lebih banyak masuk gang kecil (bukan lewat jalan utama) dan itu pengalaman seru menggunakan teknologi GPS (Internet). Hehe tapi pada akhirnya tempat pertama itu berhasil ditemukan sebelum waktu dzuhur tiba.

Berikut ini beberapa gambar yang di abadikan menggunakan smartphone;

 
 
instagram.com/rian_wf
Setelah menunaikan ibadah shalat dzuhur, perjalanan di lanjukan, kali ini tujuannya Lawang Sewu. Tapi sebelumnya, saya putuskan untuk bermalam di semarang. Sempat berkeliling mencari penginapan yang murah, setelah sebelumnya mencari kurang lebih 1 jam. 

Sempat beristirahat sejenak, tanpa pikir panjang langsung otw ke lawang sewu sore harinya, habis shalat ashar, sekitar pukul 15.30. Saya memang baru pertama kali menginjakan kaki di Semarang Jawa Tengah, tentu rasanya ingin tahu dan melihat langsung Lawang Sewu. Dengan rasa penasaran yang teramat, akhirnya tiba juga di tempat tujuan.

Berikut ini beberapa gambar yang di abadikan menggunakan smartphone;

 
Perjalanan hari itu di tutup dengan jepretan di Lawang Sewu. ~

Keesokan harinya (10/05), sekitar pukul 07.30 sehabis sarapan, saya berangkat menuju tujuan wisata religi berikutnya yaitu Klenteng Gedung Batu Sam Po Kong. Sejarahnya yang saya baca dari wikipedia, Sam Po Kong adalah sebuah petilasan, yaitu tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Zheng He / Chen Ho. Terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislaman dengan di temukan tulisan yang berbunyi "Marilah kita sejenak mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur'an"


Sekitar kurang lebih 1 jam keliling di Sam Po Kong, sekedar mengabadikan beberapa gambar, perjalanan pun berlanjut menuju Vihara Buddhagaya Watugong. Lagi-lagi saya menggunakan GPS untuk sampai ke lokasi tujuan, dan memang tidak butuh waktu lama untuk sampai tempat tersebut.

Berikut ini beberapa gambar yang di abadikan menggunakan smartphone;

Sebelum waktu dzhur tiba, perjalanan di Kota Semarang di sudahi. Dan saya kembali ke Jogja untuk selanjutnya terbang lagi ke Lombok, tempat dimana saya ditempat tugaskan. Oh ya sempat waktu itu beli oleh-oleh Tahu Baso khas Ungaran "Silo" 


Bagaimana sahabat tertarik ber-wisata Religi dan Sejarah?

Terimakasih sudah sempat membaca Travelling blogger #1 Lombok - Jogja - Semarang.
Semoga sekelumit cerita ini memberikan inspirasi dan tentunya bermanfaat, khususnya bagi saya pribadi dan umumnya bagi sahabat yang membaca tulisan ini.

Mohon maaf apabila ada kata yang salah dalam penulisan, atau ada kalimat yang kurang pas untuk di baca dan sebagainya. 

Sekian dan Terimakasih
Wassalam