Iklan

AdSense

Selasa, 29 Desember 2015

Tahukah anda 3 Air Terjun Tercantik ada di Banten

Berikut ini adalah 3 Air Terjun (Curug) Tercantik yang ada di Provinsi Banten.
1.Air Terjun Curug Cihear - Lebak

@unyil92 - (instagram)

Curug Cihear berada di Gunung Leutik tepatnya di dalam Kawasan Gunung Halimun Salak. Air terjun in berdekatan dengan wisata Arung Jeram Sungai Ciberang.

Curug Cihear memiliki aliran air yang sangat deras dan indah dengan ketinggian air ± 25 m, dengan lebar sekitar 6 meter.

Lokasinya terletak di antara Desa Cigobang dan Desa Ciladaeun Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten.

Berjarak sekitar 100 km dari Jakarta lewat Balaraja atau 80 km dari Serang lewat Pandeglang dan Rangkasbitung. 

Jika dari arah timur dapat melalui Bogor dengan waktu tempuh sekitar 3-4 jam melalui rute Bogor - Leuwiliang - Jasinga - Cipanas - Kampung Muhara.

Atau jika dari arah barat melalui Rangkasbitung dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam melalui rute Rangkasbitung - Sajira - Cipanas - Kampung Muhara.

Selanjutnya dari kampung Muhara perjalanan diteruskan melalui jalur pendakian sejauh 5 km selama 3 jam, dan 1,5 km dari Desa Cigobang dengan waktu 1 Jam. 

Sumber: bantenculturetourism.com

2.Air Terjun Curug Putri - Pandeglang
newsmedia.co.id
Curug Putri ini berada dikawasan Gunung Pulosari membuat lokasi curug ini berada ditempat ketinggian, sehingga untuk mencapainya memerlukan pendakian yang berliku dan stamina yang prima.

Lokasinya terletak di Desa Cilentung, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten.

Berjarak sekitar 25 km dari pusat kota Pandeglang dengan rute yang ditempuh Kota Pandeglang – Mengger menuju Mandalawangi – Cilentung – Curug Putri.  Kondisi jalan menuju ke sana cukup bagus akan tetapi sempit dan berkelok. Sesampainya belokan ke arah Gunung Pulosari jalan masih berbatu dan terjal.

Dari kota tangerang arahkan kendaraan ke Menger, sesampainya di pertigaan Menger ambil jalur lurus ke arah Mandalawangi. Sesampainya di pasar Pari ambil jalur lurus ke arah Carita hingga tiba di Desa Ciletung, Di desa ini ada plang petunjuk berwarna hijau dengan tulisan “1. Air Terjun Curug Putri dan 2. Kawah Gunung Pulosari”. Ambillah belokan ke kiri ke arah Gunung Pulosari.

Bagi yang menggunakan kendaraan umum dari Kota Pandeglang naik angkutan kota menuju Mengger. Dari Mengger ganti angkot dengan trayek menuju Desa Pari.. Selanjutnya dari desa Pari diteruskan dengan menggunakan ojeg atau berjalan kaki ke pos pintu masuk lokasi curug.

Setibanya di pos pintu masuk di Desa Ciletung perjalanan diteruskan dengan berjalan kaki melalui jalan setapak yang berbatu sekitar 2 km ke lokasi curug berada.

Tiket dan Parkir
Tiket masuk adalah Rp 5000 perorang.

Wisata Lain
Tak jauh dari dari lokasi wisata ini sekitar 800 m terdapat Kawah Pulosari.  Selain itu juga terdapat objek wisata lain berupa sumber air panas.

Sumber: 
sites.google.com

3.Air Terjun Curug Cigumawang - Serang

@aridewanto_o (instagram)
Curug Cigumawang memiliki ketinggian terjunan air sekitar 40 m. Sumber mata air Curug Cigumawang berasal dari Gunung Buntu. Di pusat sumber mata air ini terdapat batu besar yang menutupi sumber air tersebut sehingga membentuk aliran sungai kecil yang mengalir disebelah kanan curug tersebut. 

Di lokasi curug ini sering digunakan untuk kegiatan panjat tebing, perkemahan dan outbound.

Nama Cigumawang dalam bahasa sunda berarti bawang. Konon dahulu sekitar tahun 70-an masyarakat sekitar curug ini jika melihat jatuhan air curug tersebut dengan debit airnya yang masih deras membentuk menyerupai bawang.  

Bahkan menurut orang tua disana, jikakalau orang yang berpacaran berkunjung ke Curug ini pasti akan menikah. Selain itu juga air dari Curug Cigumawang ini bisa menyembuhkan segala penyakit.

Lokasinya terletak di Desa Kadu Bereum, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Propinsi Banten.

Berjarak sekitar 25 km dari kota Serang (Terminal Pakupatan Serang) ke arah Ciomas atau sekitar 5 km ke arah barat lokasi wisata Pemandian Air Cirahab. Jika dari jalan raya Cinangka berjarak 10 km ke arah selatan.

Untuk menuju curug ini dapat ditempuh dengan kendaraan umum maupun pribadi sekitar 1 jam dari Kota Serang. Ada dua pintu masuk menuju lokasi ini, salah satunya melalui pasar Padarincang

Jika menggunakan kendaraan umum dari Kota Serang, perjalanan dimulai dari Terminal Pakupatan Serang  naik angkot warna biru jurusan Kebon Jahe (ongkos Rp 4000 dengan waktu tempuh sekitar +- 15 menit). Selanjutnya berganti angkot (warna angkot hijau atau kuning) dengan jurusan Pasar Padarincang (ongkos Rp 8000 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam). 

Dan akhirnya setelah sampai dipasar Padarincang dilanjutkan dengan berjalan kaki melalui pematang sawah, kebun dan menyebrangi sungai menuju lokasi dengan jarak tempuh sekitar 1 km (atau sekitar 30 menit waktu tempuh yang dibutuhkan).

Tiket dan Parkir
Tiket masuk adalah Rp 5000 per orang, dimana gardu tiketnya berada kira-kira di tengah perjalanan menuju curug tersebut. Harga parkir resmi belum tersedia karena ketiadaan lahan parkir sehingga pengunjung dapat menitipkan kendaraannya ke penduduk setempat di areal halaman rumahnya. Biaya parkir umumnya berkisar Rp 3000 per kendaraan. 

Fasilitas dan Akomodasi
Di sekeliling lokasi air terjun terdapat beberapa fasilitas umum yang cukup lengkap seperti warung, mushola, bumi perkemahan, ruang ganti dan toilet, tapi sayang semuanya dalam kondisi yang kurang terawat. Selain itu akses jalan menuju lokasi masih berupa tanah atau belum diaspal dan juga ketiadaan lokasi parkir.

Juga papan petunjuk menuju area wisata ini juga tidak ada sehingga pengunjung harus rajin bertanya kepada penduduk sekitar untuk mengetahui keberadaan lokasi air terjun tersebut.

Sumber: 
farida-hartati.blogspot.com
wisatabanten.com

Semoga bermanfaat.

15 Alasan mengapa anda harus mengunjungi Banten

Berikut ini adalah alasan mengapa anda harus mengunjungi Banten;
1.Pantai Bagedur

(@aishariaginanti/instagram)
2.Pantai Carita
 
(@rian_wf/instagram)
3.Pantai Ciantir Sawarna
(@sawarnaparadiso/instagram)

4.Pantai Cihara - Lebak
 
(@lisdawidianingsih/instagram)

5.Pantai Ciputih - Sumur

(@jesslynpratama/instagram)
6.Pantai dan Pelabuhan Merak

(@alfin.nugroho/instagram)

7.Pantai Karang Taraje
 
(@c_prasetio/instagram)

8.Pantai Karangsongsong Cibobos
(@budiheran/instagram)
9.Pantai Mabak

(@bimaharseno/instagram)

10.Pantai Pulorida

(@dimasfaniprastyawan/instagram)

11.Pantai Tanjung Kait

(@earths_locations)
12.Pantai Tanjung Layar 

(@fajrun_am)

13.Pantai Tanjung Lesung 

(@abietyaskti_narendra/instagram)

14.Pantai Karang Bolong

(@muzakiiman/instagram)
15.Pantai Pulo Umang 

(@ipahila/instagram)

Semoga bermanfaat dan membantu anda menentukan tempat liburan bersama keluarga di Banten.

Gambar: Instagram


Kamis, 17 Desember 2015

Cerpen: Surgaku Ada di Suamiku (Full)

Cerpen: Surgaku, Ada di Suamiku
Oleh: Rian Rinaldi

Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya, entah perasaan apa yang membuat ku lelah seperti habis berlari kencang. Saat itu yang ku ingat adalah, kata-kata cacian yang ku terima dari seorang wanita yang ku cinta. Nama nya anggi, teman satu kelas ku saat kuliah 2 tahun yang lalu. Dia wanita karir yang bekerja di salah satu perusahaan swasta di jakarta, sedangkan aku seorang yang sibuk dengan usahaku yang sudah aku rintis semenjak kuliah. 

Aku ingat sekitar 4 tahun yang lalu, aku berusaha merintis usaha pulsa keliling. Ya, jualan pulsa adalah usaha pertamaku di kampus. Setiap hari ada saja teman yang membeli pulsa dariku, tapi lebih sering mereka berhutang yang akan di bayarnya setiap awal bulan.

"Bro, kirim pulsa ya 25ribu, bayarnya biasa bulan depan.." saat aku baca pesan singkat dari temanku yang minta di kirimi pulsa seperti biasanya. Tanpa aku balas, aku langsung kirim pulsa sesuai yang dia minta. Singkat cerita usahaku mulai berkembang, dan aku buka konter pulsa di rumah orang tuaku. 

2 tahun kemudian aku lulus kuliah dan mulai menjalani usaha konter yang aku anggap bisa membantu kedua orang tuaku yang hanya seorang pensiunan guru dan ibu rumah tangga. Penghasilanku bisa di bilang lumayan, setiap hari 300 ribu pulsa habis terjual, belum lagi dari teman-teman yang menjadi langganan pulsaku. 

Aku ingat, ketika kuliah, aku berkenalan dengan wanita yang kemudian ku kenal dengan nama anggi. Dia pintar, mandiri dan tentu nya cantik dengan rambut panjang yang lurus terurai. Kemudian aku memutuskan untuk melamarnya setelah kita berpacaran selama 1 tahun lebih. 

Awalnya dia sangat perhatian kepadaku, dia juga pintar sekali memasak. Setiap hari aku di masakannya makanan kesukaanku, sayur asem dan ayam kecap. Benar, itu memang sederhana tapi buatku special karena istriku sendiri yang memasak. 

"Sayang, makasih ya.." puji ku kepada istriku, dia hanya menjawabnya dengan senyum manisnya, sungguh beruntung aku punya istri sebaik dia. 

Beberapa bulan setelah pernikahan kita, istriku meminta ijin kepadaku untuk bekerja karena mungkin bosan di rumah hanya sebagai ibu rumah tangga. Dan juga katanya dia ingin bantu keuangan keluarga, agar kelak bisa beli rumah sendiri. Iya, kami memang setelah menikah langsung memutuskan untuk mengontrak rumah, karena kami pikir ingin membangun rumah tangga yang mandiri tanpa bantuan orang tua atau mertua.

Akhirnya aku mengijinkannya untuk mencari kerja di luar, sedangkan aku masih tetap dengan usaha konter pulsaku yang memang akhir-akhir ini sepi. "Iya aku ijinkan kamu kerja, asalkan kamu bisa jaga diri dan tetap kewajiban kamu sebagai istri tidak kamu lupa.." jawabku saat itu. Dia tersenyum, menarik tangan kananku dan menciumnya. Aku pikir ini keputusan yang tepat, walaupun aku sempat ragu jika nanti dia bekerja di luar pasti pekerjaan di rumah terabaikan. 

Benar saja, baru satu minggu dia bekerja, pekerjaan di rumah banyak yang tak terpegangnya, akhirnya aku yang tiap kali dia pulang larut malam yang membereskan pekerjaan di rumah. Memang saat itu aku memakluminya karena dia bilang, pekerjaan kantornya banyak dan harus lembur. 

Beberapa minggu setelahnya aku merasa istriku bukan wanita yang ku kenal dulu, dia yang lembut, perhatian dan sifat-sifat baik yang ku banggakan dulu sekejap berubah. Dia tak pernah lagi memperhatikanku, bahkan tiap malam aku tidur seperti sendirian. Dia juga beberapa kali pernah ku pergoki sedang mengobrol di telpon dengan siapa aku pun tak tahu. Tapi kelihatannya dia senang dan tak jarang dia pun pergi entah kemana dan bersama siapa. Aku masih saja memakluminya karena rasa percayaku kepada istriku. Namun entah kenapa aku merasa istriku sangat berubah, bahkan dia begitu tak menghormatiku sebagai suaminya.

Suatu hari aku menunggunya pulang di depan pintu, dan benar saja dia pulang larut malam lagi. Jam menunjukan pukul 2 dini hari, dia pulang dan tanpa rasa bersalah dia tak meminta maaf kepadaku bahkan dia sangat marah ketika ku tanya dari mana. "Aku tuh capek tau, seharian kerja, kamu ga usah tanya aku dari mana.." cetus dia kepadaku.

Aku lagi-lagi mengalah dan tak memperkeruh keadaan. Hembusan nafasku terasa dan seakan penyesalan begitu mendalam. Andai saja dulu tak ku ijinkan dia kerja di luar, mungkin keadaannya berbeda. 

Hampir satu tahun semenjak dia bekerja di luar, sejak itu pula sikap dia berubah. Aku yang saat itu menjadi suaminya selalu saja mengalah, sampai akhirnya aku ambil sikap dan coba memintanya untuk berhenti dari pekerjaannya. "Dari dulu aku selalu mengalah, kamu berubah, bahkan sepertinya kamu lupa akan kewajibanmu sebagai istriku!" kataku kepadanya. Dia hanya diam lalu pergi ke kamar dan tidur. Sungguh habis kesabaranku, aku memang suami yang selama ini mengalah sama istriku. Tapi itu ku lakukan demi rumah tanggaku yang hampir dua tahun ini belum juga di karuniai seorang anak. Karena memang tiap malam aku seperti tidur seorang diri. 

Istriku tetaplah istriku, walaupun sikapnya berubah sangat drastis aku tetap mencintainya. Buktinya aku tak pernah berhenti berdoa untuknya, karena aku ingin dia sadar dan kembali seperti pertama kali aku mengenalnya. Entahlah apa mungkin dia bisa seperti dulu lagi atau tidak, tapi setidaknya aku berusaha untuk jadi suami yang baik untuknya. 

Hari itu tepat pada hari ulang tahunnya, aku ingat itu hari minggu. Sebelumnya pada hari sabtu aku mempersiapkan sebuah kejutan special di rumah, dan sengaja aku tunggu dia pulang dari kantor. Namun yang terjadi, katanya dia harus keluar kota untuk meeting bersama atasannya. Aku sudah mencoba melarangnya untuk pergi, tapi dia tetap saja pergi. "Sudah aku bilang, aku harus pergi !" katanya kepadaku saat aku coba menyuruhnya untuk pulang. "Apa ga bisa kamu ijin sama atasanmu?" Tanyaku lagi. "Kamu gak ngerti? Aku kerja! Kerja! Okeh? Udah ya aku mau berangkat!" katanya dan telpon pun di tutup. 

Rasanya seperti di tusuk-tusuk jarum beberapa kali, pedih, dan jujur aku kecewa dengan sikap istriku kepadaku. Sebagai seorang istri harusnya dia bisa bersikap lembut terhadap suaminya, tapi kenyataannya sebaliknya dan aku pun selalu mengalah, bahkan tak bisa bersikap tegas. Hembusan nafasku yang rasanya susah dan sesak, heemmmm sabar, dalam hatiku berkata demikian.

Makan malam dengan suasana romantis pun sia-sia karena dia tidak pulang. Aku yang saat itu duduk diam menatapi meja makan yang sudah ku hias dengan beberapa lilin dan makanan yang aku masak sendiri. Sungguh berat keadaan seperti ini, rasanya ingin ku akhiri saja semuanya. Tapi pikiranku masih sangat normal, dan tentu saja tidak mungkin aku melakukannya. Pisau itu kemudian aku lempar, setelah sebelumnya sempat berada di dekat urat nadiku. Aku menangis malam itu, dengan tatapan kosong yang seakan tak tau apa yang kupikirkan. Air mata tanpa terasa mulai membasahi pipiku, suara air hujan turun pun mulai terdengar di luar rumah. Kemudian seketika gubrakkkkkkkk!!! aku singkirkan semua yang ada di atas meja. Dan sangat kacau! Iya, semua berserakan, piring, gelas, pecah, makanan pun semua ada di bawah. Sepertinya memang ini puncak kesabaranku, dan meledak di malam itu.

Jam tepat menunjukkan pukul 12 malam, saat alarm handphone ku berbunyi membangunkan aku dari tidurku. Dan aku buka untuk mematikannya, ku lihat handphone ku dengan tulisan "ulang tahun istriku sayang" lalu ku matikan. Sempat aku terdiam, namun perlahan tanganku mulai mengarah pada pesan singkat. Aku mulai menulis, tapi tidak jadi. Akhirnya ku putuskan untuk menelpon nya, dan panggilan pertama tak di jawabnya. Benar feelingku dia masih marah, atau mungkin dia masih di jalan dan handphone nya ada di dalam tas. Aku coba telpon lagi, dan tetap saja tidak di angkat. Ketiga kalinya aku telpon dia lagi, dan kali ini ya Tuhan nomornya tidak aktif. Padahal baru saja aku telpon, kenapa sekarang? Oh mungkin jaringan atau gangguan. Aku telpon lagi dan lagi beberapa kali dan benar "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.." itu saja yang aku dengar. 

Baiklah, mungkin dia tidak mau di ganggu dan akhirnya ku putuskan untuk mengirim pesan singkat saja. "Istriku sayang, take care yaa. Kabarin aku kalau sudah sampai. Aku cuma mau bilang, happy birthday yaa sayang. Tadinya aku udah siapin semuanya di rumah, special buat kamu, tapi ya udah gak apa-apa kamu kan sibuk. Aku tunggu kamu pulang ke rumah yaa. Love u.." tulisku dalam pesan singkat itu. 

Begitulah cinta kadang membutakan mata, walaupun istriku sikapnya begitu aku tetap sayang kepadanya. Aku berusaha mengerti keadaan dan mungkin harus selalu mengalah. 

Malam itu telah pergi, dan pagi pun datang, ku lihat jam menunjukkan pukul 8 pagi. Aku lalu melihat handphoneku dan berharap pesan singkatku di balas istriku. Aku buka, dan ternyata ada 2 pesan masuk. Aku senang, tapi saat di baca ternyata bukan dari istriku. Pesan nya dari pelangganku yang seperti biasanya meminta isikan pulsa. Hemmm aku tak habis pikir kenapa istriku tak membalas pesanku, padahal pesannya terkirim. Tapi mungkin nanti siang dia balas, pikirku dalam hati. Namun tak kunjung juga ada balasan, saat ku lihat jam menunjukkan pukul 2 siang. Aku masih sabar menunggu, sampai sore bahkan malam. Tapi kenyataan tak selalu sesuai dengan harapan, dan aku mulai berpikir untuk menelponnya.

Ketika itu tiba-tiba dering handphone ku berbunyi, dan ku lihat ternyata istriku menelpon. Aku langsung mengangkatnya dengan perasaan senang, "halo sayang.." ucapku merdu. "Kamu gak usah gangguin aku! Aku tuh lagi kerja! Gimana kalo bos ku marah? Terus aku di pecat?" suara dengan nada keras yang ku dengar memang istriku. "Maaf, iya aku gak akan gangguin kamu lagi.." kataku dengan nada mengalah dan pelan. "Kamu kapan pulang?" tanya ku lagi. "Halo sayang, halooo..." aku tak mendengar suaranya dan ternyata tut.. tut.. tut telponnya mati. Ya Tuhan sampai hati dia begitu kepada suaminya sendiri. Apa salahku? Kenapa dia begitu teganya memperlakukanku seperti itu? Tanyaku dalam hati. 

Akhirnya hari itu lewat begitu saja, ucapan ulang tahun dariku juga di abaikannya. Entahlah rasanya seperti bukan dia saja, dia memang berubah bahkan lebih dari itu. Aku tak mampu berkata-kata lagi, aku juga begitu lemah dan selalu mengalah. Semua itu kulakukan karena aku sangat mencintainya, aku juga tak ingin rumah tangga kami rusak dan hacur. Aku ingat pesan ibuku (alm) saat beliau masih ada, "kau jaga istrimu, perlakukan dia lemah lembut, jangan kasar.." "iya bu, pasti aku ingat apa kata ibu.." jawabku mengiyakan pada ibuku. 

Tapi sungguh berat keadaan seperti ini, aku tak tau mesti bagaimana. Ini bagaikan memakan buah simalakama, serba salah. Bila sikapku keras, pasti dia meminta cerai dan ingin berpisah seperti dulu. Saat itu aku memang salah, nada bicara ku sangat tinggi dan dia menangis ketakutan. Tapi waktu itu sebelum dia kerja, sebelum dia berubah.

Aku rasa kebahagianku berubah ketika aku mulai bekerja, dan suamiku masih dengan usahanya. Memang keuangan kami terbantu saat aku berkerja di luar, karena suamiku akhir-akhir itu sepi pendapatannya. Keluarga kami memang masih mencukupi kebutuhan, untuk makan dan hari-hari aku masih bisa mengaturnya dari nafkah suamiku yang aku rasa sangat pas-pasan. Sungguh berat lagi ketika kami memutuskan untuk membeli rumah secara kredit, dan aku yang hanya ibu rumah tangga pada waktu itu merasa tak bisa berbuat banyak. Akhirnya dengan memberanikan diri meminta ijin kepada suamiku, aku ingin bekerja dan ikut membantu keuangan rumah tangga kami.

Awalnya, sebelum bekerja waktuku sangat banyak, bahkan aku merasa bosan di rumah. Itu salah satu alasan aku ingin bekerja di luar. Tapi setelah beberapa hari mulai bekerja, ternyata sungguh berat mengatur waktu antara pekerjaan di kantor dan di rumah. Rasa capek pun selalu datang ketika aku pulang dari kantor, dan terpaksa aku harus langsung beristirahat tanpa tau ternyata suamiku lah yang mengurus rumah kami sendirian. 

Aku mulai cuek pada suamiku, bahkan sering kali kami bertengkar hebat karena masalah kecil yang menurutku tak perlu di perdebatkan lagi. Aku yang lebih sering marah-marah sama dia di rumah, padahal hati kecilku menentangnya karena dia tetap lah suamiku yang mesti aku hormati dan hargai. Tapi mungkin ego dan rasa lelah yang membuatku keras kepala, dan kadang ingin menang sendiri.

Aku ingat ketika itu suamiku menelpon ku saat aku sedang berada di ruangan meeting dengan atasanku. Aku tak mengangkatnya, karena ku pikir nanti aku akan telpon dia. Tapi handphone ku tak berhenti berbunyi dan itu panggilan masuk dari suamiku, dengan sangat terpaksa aku nonaktifkan handphoneku malam itu. Kebetulan sekali atasanku meminta ku untuk menemaninya keluar kota untuk bertemu kline yang tak dapat aku tolak, akhirnya aku mengiyakan. Setelah meeting selesai, aku aktifkan kembali handphoneku untuk mengabari suamiku. Dan kembali kami bertengkar di telpon, alasannya menurutku dia tak mengerti kondisi aku yang harus pergi ke luar kota. Dia sempat membujukku memang, tapi karena aku yang akhir-akhir ini sibuk dan capek terpancing emosi dan marah. Dengan sadar aku membentak-bentak suamiku oh my god, dalam hatiku menangis sebenarnya dengan sikapku yang begitu pada suamiku. 

"Aku kerja! Kerja! Okeh?" itu kata terakhir yang ku ucapkan kepadanya dengan nada yang lumayan tinggi. Malam itu ternyata dia cuma mau aku pulang, dia udah siapin semuanya. Sungguh penyesalan ku yang teramat dalam, tapi nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi. Besoknya aku mulai berpikir mau meminta maaf kepadanya, atas sikapku yang keterlaluan. Namun saat itu atasanku meminta ku untuk fokus di kerjaan dan agar tender ini goal. Akhirnya aku mengiyakan untuk fokus, dan dengan sadar aku telpon suamiku yang lagi-lagi dengan nada keras. Aku memintanya untuk jangan mengganggu ku yang sedang kerja. Aku bilang juga gimana kalau aku di pecat? Dan dia akhirnya mengerti, walaupun begitu aku menangis tak kuasa menahan rasa bersalah pada suamiku. Karena tak ingin ketahuan, aku matikan saat itu telponnya walaupun pembicaran kita belum selesai. Ku pikir dia pasti sangat kecewa, dan rumah tanggaku pasti bakalan hancur. 

Sepulangnya dari luar kota beberapa hari, aku pulang ke rumah dan dengan sangat terkejut suamiku menunggu dan menyambutku dengan sangat ramah seperti tak ada masalah di antara kita. "Kamu udah pulang sayang? Pasti cape kan? Aku buatin kamu minum yaa.." kata suamiku dengan senyum terbaiknya kepadaku. Aku yang hanya diam dan benar-benar tak menyangka akan seperti ini, dan dia memperlakukanku seperti seorang putri raja. "Kamu kok jadi baik begini sama aku? Harusnya kan kamu kecewa dengan sikap aku selama ini?" tuturku dengan lembut. Dia ku lihat hanya tersenyum, yang membuatku makin aneh. "Kok senyum? Kamu sakit mas?" tanyaku pada suamiku. "Gak kok sayang, aku cuma seneng aja kamu baik-baik dan pulang ke rumah dengan keadaan utuh.." katanya kepadaku sambil menggenggam tanganku dengan mesra. Aku membalas senyumannya dan tiba-tiba air mataku menetes tak kuasa aku menahannya. Mas Reza, suamiku, memang suami yang sangat baik dan bahkan tak pernah kasar seperti orang-orang yang kadang kena pukul suaminya. 

Ku cium tangan suamiku, dan dengan penuh penyesalah aku meminta maaf kepadanya. "Aku minta maaf mas, aku gagal jadi istri yang baik buat kamu.." ujarku sambil menangis tersedu-sedu menyesali sikap aku selama ini kepadanya. "Aku janji, aku janji mas, aku akan perbaiki semuanya.." kataku lagi, seraya berjanji akan memperbaiki rumah tangga kami, dengan merubah sikapku. "Aku sudah putuskan untuk keluar dari kantorku mas, aku mau berhenti.." ku tatap wajahnya yang ku lihat dia diam melihat kearahku. "Aku ga mau kehilanganmu mas, aku ga mau rumah tangga kita rusak.." bujukku lagi. "Sayang.. Kamu ingat ga? Ketika kita menikah dan saling berjanji di hadapan Tuhan. Kita akan selalu setia sampai akhir, sampai Tuhan menjemput. Aku juga sudah janji sama kamu untuk selalu jaga kamu dengan baik, aku juga janji sama alm. Ibu ku, ga akan tinggalin kamu apapun keadaannya.." bisik suamiku dengan tangan kanannya yang memegang pipiku lembut. Aku tak kuasa, ku peluk suamiku dan menangis terharu. Entah perasaan apa waktu itu yang ku rasa, antara menyesal, sedih, seneng atau apa. Yang jelas aku mencintai suamiku, bagiku dia adalah surga yang ku miliki, surga yang begitu indah, surgaku ada di suamiku. Aku sangat beruntung memilikinya, dia yang selalu memperjuangkan dan mempertahankan rumah tangga kami. 

SELESAI

Gambar: instagram/rian_wf

Senin, 14 Desember 2015

Surgaku Ada di Suamiku (part III)

Aku rasa kebahagianku berubah ketika aku mulai bekerja, dan suamiku masih dengan usahanya. Memang keuangan kami terbantu saat aku berkerja di luar, karena suamiku akhir-akhir itu sepi pendapatannya. Keluarga kami memang masih mencukupi kebutuhan, untuk makan dan hari-hari aku masih bisa mengaturnya dari nafkah suamiku yang aku rasa sangat pas-pasan. Sungguh berat lagi ketika kami memutuskan untuk membeli rumah secara kredit, dan aku yang hanya ibu rumah tangga pada waktu itu merasa tak bisa berbuat banyak. Akhirnya dengan memberanikan diri meminta ijin kepada suamiku, aku ingin bekerja dan ikut membantu keuangan rumah tangga kami.

Awalnya, sebelum bekerja waktuku sangat banyak, bahkan aku merasa bosan di rumah. Itu salah satu alasan aku ingin bekerja di luar. Tapi setelah beberapa hari mulai bekerja, ternyata sungguh berat mengatur waktu antara pekerjaan di kantor dan di rumah. Rasa capek pun selalu datang ketika aku pulang dari kantor, dan terpaksa aku harus langsung beristirahat tanpa tau ternyata suamiku lah yang mengurus rumah kami sendirian.

Aku mulai cuek pada suamiku, bahkan sering kali kami bertengkar hebat karena masalah kecil yang menurutku tak perlu di perdebatkan lagi. Aku yang lebih sering marah-marah sama dia di rumah, padahal hati kecilku menentangnya karena dia tetap lah suamiku yang mesti aku hormati dan hargai. Tapi mungkin ego dan rasa lelah yang membuatku keras kepala, dan kadang ingin menang sendiri.

Aku ingat ketika itu suamiku menelpon ku saat aku sedang berada di ruangan meeting dengan atasanku. Aku tak mengangkatnya, karena ku pikir nanti aku akan telpon dia. Tapi handphone ku tak berhenti berbunyi dan itu panggilan masuk dari suamiku, dengan sangat terpaksa aku nonaktifkan handphoneku malam itu. Kebetulan sekali atasanku meminta ku untuk menemaninya keluar kota untuk bertemu kline yang tak dapat aku tolak, akhirnya aku mengiyakan. Setelah meeting selesai, aku aktifkan kembali handphoneku untuk mengabari suamiku. Dan kembali kami bertengkar di telpon, alasannya menurutku dia tak mengerti kondisi aku yang harus pergi ke luar kota. Dia sempat membujukku memang, tapi karena aku yang akhir-akhir ini sibuk dan capek terpancing emosi dan marah. Dengan sadar aku membentak-bentak suamiku oh my god, dalam hatiku menangis sebenarnya dengan sikapku yang begitu pada suamiku.

"Aku kerja! Kerja! Okeh?" itu kata terakhir yang ku ucapkan kepadanya dengan nada yang lumayan tinggi. Malam itu ternyata dia cuma mau aku pulang, dia udah siapin semuanya. Sungguh penyesalan ku yang teramat dalam, tapi nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi. Besoknya aku mulai berpikir mau meminta maaf kepadanya, atas sikapku yang keterlaluan. Namun saat itu atasanku meminta ku untuk fokus di kerjaan dan agar tender ini goal. Akhirnya aku mengiyakan untuk fokus, dan dengan sadar aku telpon suamiku yang lagi-lagi dengan nada keras. Aku memintanya untuk jangan mengganggu ku yang sedang kerja. Aku bilang juga gimana kalau aku di pecat? Dan dia akhirnya mengerti, walaupun begitu aku menangis tak kuasa menahan rasa bersalah pada suamiku. Karena tak ingin ketahuan, aku matikan saat itu telponnya walaupun pembicaran kita belum selesai. Ku pikir dia pasti sangat kecewa, dan rumah tanggaku pasti bakalan hancur.

Sepulangnya dari luar kota beberapa hari, aku pulang ke rumah dan dengan sangat terkejut suamiku menunggu dan nyambutku dengan sangat ramah seperti tak ada masalah di antara kita. "Kamu udah pulang sayang? Pasti cape kan? Aku buatin minum ya buat kamu.." kata suamiku dengan senyum terbaiknya kepadaku. Aku yang hanya diam dan benar-benar tak menyangka akan seperti ini, dan dia memperlakukanku seperti seorang putri raja. "Kamu kok jadi baik begini sama aku? Harusnya kan kamu kecewa dengan sikap aku selama ini?" tuturku dengan lembut. Dia ku lihat hanya tersenyum, yang membuatku makin aneh. "Kok senyum? Kamu sakit mas?" tanyaku pada suamiku. "Gak kok sayang, aku cuma seneng aja kamu baik-baik dan pulang ke rumah dengan keadaan utuh.." katanya kepadaku sambil menggenggam tanganku dengan mesra. Aku membalas senyumannya dan tiba-tiba air mataku menetes tak kuasa aku menahannya. Mas Reza, suamiku, memang suami yang sangat baik dan bahkan tak pernah kasar seperti orang-orang yang kadang kena pukul suaminya.

Ku cium tangan suamiku, dan dengan penuh penyesalah aku meminta maaf kepadanya. "Aku minta maaf mas, aku gagal jadi istri yang baik buat kamu.." ujarku sambil menangis tersedu-sedu menyesali sikap aku selama ini kepadanya. "Aku janji, aku janji mas, aku akan perbaiki semuanya.." kataku lagi, seraya berjanji akan memperbaiki rumah tangga kami, dengan merubah sikapku. "Aku sudah putuskan untuk keluar dari kantorku mas, aku mau berhenti.." ku tatap wajahnya yang ku lihat dia diam melihat kearahku. "Aku ga mau kehilanganmu mas, aku ga mau rumah tangga kita rusak.." bujukku lagi. "Sayang.. Kamu ingat ga? Ketika kita menikah dan saling berjanji di hadapan Tuhan. Kita akan selalu setia sampai akhir, sampai Tuhan menjemput. Aku juga sudah janji sama kamu untuk selalu jaga kamu dengan baik, aku juga janji sama alm. Ibu ku, ga akan tinggalin kamu apapun keadaannya.." bisik suamiku dengan tangan kanannya yang memegang pipiku lembut. Aku tak kuasa, ku peluk suamiku dan menangis terharu. Entah perasaan apa waktu itu yang ku rasa, antara menyesal, sedih, seneng atau apa. Yang jelas aku mencintai suamiku, bagiku dia adalah surga yang ku miliki, surga yang begitu indah, surgaku ada di suamiku. Aku sangat beruntung memilikinya, dia yang selalu memperjuangkan dan mempertahankan rumah tangga kami.

SELESAI

Gambar: instagram/rian_wf

Surgaku Ada di Suamiku (part II)

Istriku tetaplah istriku, walaupun sikapnya berubah sangat drastis aku tetap mencintainya. Buktinya aku tak pernah berhenti berdoa untuknya, karena aku ingin dia sadar dan kembali seperti pertama kali aku mengenalnya. Entahlah apa mungkin dia bisa seperti dulu lagi atau tidak, tapi setidaknya aku berusaha untuk jadi suami yang baik untuknya.

Hari itu tepat pada hari ulang tahunnya, aku ingat itu hari minggu. Sebelumnya pada hari sabtu aku mempersiapkan sebuah kejutan special di rumah, dan sengaja aku tunggu dia pulang dari kantor. Namun yang terjadi, katanya dia harus keluar kota untuk meeting bersama atasannya. Aku sudah mencoba melarangnya untuk pergi, tapi dia tetap saja pergi. "Sudah aku bilang, aku harus pergi !" katanya kepadaku saat aku coba menyuruhnya untuk pulang. "Apa ga bisa kamu ijin sama atasanmu?" Tanyaku lagi. "Kamu gak ngerti? Aku kerja! Kerja! Okeh? Udah ya aku mau berangkat!" katanya dan telpon pun di tutup.

Rasanya seperti di tusuk-tusuk jarum beberapa kali, pedih, dan jujur aku kecewa dengan sikap istriku kepadaku. Sebagai seorang istri harusnya dia bisa bersikap lembut terhadap suaminya, tapi kenyataannya sebaliknya dan aku pun selalu mengalah, bahkan tak bisa bersikap tegas. Hembusan nafasku yang rasanya susah dan sesak, heemmmm sabar, dalam hatiku berkata demikian.

Makan malam dengan suasana romantis pun sia-sia karena dia tidak pulang. Aku yang saat itu duduk diam menatapi meja makan yang sudah ku hias dengan beberapa lilin dan makanan yang aku masak sendiri. Sungguh berat keadaan seperti ini, rasanya ingin ku akhiri saja semuanya. Tapi pikiranku masih sangat normal, dan tentu saja tidak mungkin aku melakukannya. Pisau itu kemudian aku lempar, setelah sebelumnya sempat berada di dekat urat nadiku. Aku menangis malam itu, dengan tatapan kosong yang seakan tak tau apa yang kupikirkan. Air mata tanpa terasa mulai membasahi pipiku, suara air hujan turun pun mulai terdengar di luar rumah. Kemudian seketika gubrakkkkkkkk!!! aku singkirkan semua yang ada di atas meja. Dan sangat kacau! Iya, semua berserakan, piring, gelas, pecah, makanan pun semua ada di bawah. Sepertinya memang ini puncak kesabaranku, dan meledak di malam itu.

Jam tepat menunjukkan pukul 12 malam, saat alarm handphone ku berbunyi membangunkan aku dari tidurku. Dan aku buka untuk mematikannya, ku lihat handphone pun dengan tulisan "ulang tahun istriku sayang" lalu ku matikan. Sempat aku terdiam, namun perlahan tanganku mulai mengarah pada pesan singkat. Aku mulai menulis, tapi tidak jadi. Akhirnya ku putuskan untuk menelpon nya, dan panggilan pertama tak di jawabnya. Benar feelingku dia masih marah, atau mungkin dia masih di jalan dan handphone nya ada di dalam tas. Aku coba telpon lagi, dan tetap saja tidak di angkat. Ketiga kalinya aku telpon dia lagi, dan kali ini ya Tuhan nomornya tidak aktif. Padahal baru saja aku telpon, kenapa sekarang? Oh mungkin jaringan atau gangguan. Aku telpon lagi dan lagi beberapa kali dan benar "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.." itu saja yang aku dengar.

Baiklah, mungkin dia tidak mau di ganggu dan akhirnya ku putuskan untuk mengirim pesan singkat saja. "Istriku sayang, take care yaa. Kabarin aku kalau sudah sampai. Aku cuma mau bilang, happy birthday yaa sayang. Tadinya aku udah siapin semuanya di rumah, special buat kamu, tapi ya udah gak apa-apa kamu kan sibuk. Aku tunggu kamu pulang ke rumah yaa. Love u.." tulisku dalam pesan singkat itu.

Begitulah cinta kadang membutakan mata, walaupun istriku sikapnya begitu aku tetap sayang kepadanya. Aku berusaha mengerti keadaan dan mungkin harus selalu mengalah.

Malam itu telah pergi, dan pagi pun datang, ku lihat jam menunjukkan pukul 8 pagi. Aku lalu melihat handphoneku dan berharap pesan singkatku di balas istriku. Aku buka, dan ternyata ada 2 pesan masuk. Aku senang, tapi saat di baca ternyata bukan dari istriku. Pesan nya dari pelangganku yang seperti biasanya meminta isikan pulsa. Hemmm aku tak habis pikir kenapa istriku tak membalas pesanku, padahal pesannya terkirim. Tapi mungkin nanti siang dia balas, pikirku dalam hati. Namun tak kunjung juga ada balasan, saat ku lihat jam menunjukkan pukul 2 siang. Aku masih sabar menunggu, sampai sore bahkan malam. Tapi kenyataan tak selalu sesuai dengan harapan, dan aku mulai berpikir untuk menelponnya.

Ketika itu tiba-tiba dering handphone ku berbunyi, dan ku lihat ternyata istriku menelpon. Aku langsung mengangkatnya dengan perasaan senang, "halo sayang.." ucapku merdu. "Kamu gak usah gangguin aku! Aku tuh lagi kerja! Gimana kalo bos ku marah? Terus aku di pecat?" suara dengan nada keras yang ku dengar memang istriku. "Maaf, iya aku gak akan gangguin kamu lagi.." kataku dengan nada mengalah dan pelan. "Kamu kapan pulang?" tanya ku lagi. "Halo sayang, halooo..." aku tak mendengar suaranya dan ternyata tut.. tut.. tut telponnya mati. Ya Tuhan sampai hati dia begitu kepada suaminya sendiri. Apa salahku? Kenapa dia begitu teganya memperlakukanku seperti itu? Tanyaku dalam hati.

Akhirnya hari itu lewat begitu saja, ucapan ulang tahun dariku juga di abaikannya. Entahlah rasanya seperti bukan dia saja, dia memang berubah bahkan lebih dari itu. Aku tak mampu berkata-kata lagi, aku juga begitu lemah dan selalu mengalah. Semua itu kulakukan karena aku sangat mencintainya, aku juga tak ingin rumah tangga kami rusak dan hacur. Aku ingat pesan ibuku (alm) saat beliau masih ada, "kau jaga istrimu, perlakukan dia lemah lembut, jangan kasar.." "iya bu, pasti aku ingat apa kata ibu.." jawabku mengiyakan pada ibuku.

Tapi sungguh berat keadaan seperti ini, aku tak tau mesti bagaimana. Ini bagaikan memakan buah simalakama, serba salah. Bila sikapku keras, pasti dia meminta cerai dan ingin berpisah seperti dulu. Saat itu aku memang salah, nada bicara ku sangat tinggi dan dia menangis ketakutan. Tapi waktu itu sebelum dia kerja, sebelum dia berubah.

*sambung part III

Gambar: instagram/rian_wf

Sabtu, 12 Desember 2015

Surgaku ada di suamiku

-Surgaku Ada di Suamiku-
Karya: Rian

Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya, entah perasaan apa yang membuat ku lelah seperti habis berlari kencang. Saat itu yang ku ingat adalah, kata-kata cacian yang ku terima dari seorang wanita yang ku cinta. Nama nya anggi, teman satu kelas ku saat kuliah 2 tahun yang lalu. Dia wanita karir yang bekerja di salah satu perusahaan swasta di jakarta, sedangkan aku seorang yang sibuk dengan usahaku yang sudah aku rintis semenjak kuliah.

Aku ingat sekitar 4 tahun yang lalu, aku berusaha merintis usaha pulsa keliling. Ya, jualan pulsa adalah usaha pertamaku di kampus. Setiap hari ada saja teman yang membeli pulsa dariku, tapi lebih sering mereka berhutang yang akan di bayarnya setiap awal bulan.

"Bro kirim pulsa ya 25 ribu, bayarnya biasa bulan depan.." saat aku baca pesan singkat dari temanku yang minta di kirimi pulsa seperti biasanya. Tanpa aku balas, aku langsung kirim pulsa sesuai yang dia minta. Singkat cerita usahaku mulai berkembang, dan aku buka konter pulsa di rumah orang tuaku.

2 tahun kemudian aku lulus kuliah dan mulai menjalani usaha konter yang aku anggap bisa membantu kedua orang tuaku yang hanya seorang pensiunan guru dan ibu rumah tangga. Penghasilanku bisa di bilang lumayan, setiap hari 300 ribu pulsa habis terjual, belum lagi dari teman-teman yang menjadi langganan pulsaku.

Aku ingat, ketika kuliah, aku berkenalan dengan wanita yang kemudian ku kenal dengan nama anggi. Dia pintar, mandiri dan tentu nya cantik dengan rambut panjang yang lurus terurai. Kemudian aku memutuskan untuk melamarnya setelah kita berpacaran selama 1 tahun lebih.

Awalnya dia sangat perhatian kepadaku, dia juga pintar sekali memasak. Setiap hari aku di masakannya makanan kesukaanku, sayur asem dan ayam kecap. Benar, itu memang sederhana tapi buatku special karena istriku sendiri yang memasak.

"Sayang, makasih ya.." puji ku kepada istriku, dia hanya menjawabnya dengan senyum manisnya, sungguh beruntung aku punya istri sebaik dia.

Beberapa bulan setelah pernikahan kita, istriku meminta ijin kepadaku untuk bekerja karena mungkin bosan di rumah hanya sebagai ibu rumah tangga. Dan juga katanya dia ingin bantu keuangan keluarga, agar kelak bisa beli rumah sendiri. Iya, kami memang setelah menikah langsung memutuskan untuk mengontrak rumah, karena kami pikir ingin membangun rumah tangga yang mandiri tanpa bantuan orang tua atau mertua.

Akhirnya aku mengijinkannya untuk mencari kerja di luar, sedangkan aku masih tetap dengan usaha konter pulsaku yang memang akhir-akhir ini sepi. "Iya aku ijinkan kamu kerja, asalkan kamu bisa jaga diri dan tetap kewajiban kamu sebagai istri tidak kamu lupa.." jawabku saat itu. Dia tersenyum, menarik tangan kananku dan menciumnya. Aku pikir ini keputusan yang tepat, walaupun aku sempat ragu jika nanti dia bekerja di luar pasti pekerjaan di rumah terabaikan.

Benar saja, baru satu minggu dia bekerja, pekerjaan di rumah banyak yang tak terpegangnya, akhirnya aku yang tiap kali dia pulang larut malam yang membereskan pekerjaan di rumah. Memang saat itu aku memakluminya karena dia bilang, pekerjaan kantornya banyak dan harus lembur.

Beberapa minggu setelahnya aku merasa istriku bukan wanita yang ku kenal dulu, dia yang lembut, perhatian dan sifat-sifat baik yang ku banggakan dulu sekejap berubah. Dia tak pernah lagi memperhatikanku, bahkan tiap malam aku tidur seperti sendirian. Dia juga beberapa kali pernah ku pergoki sedang mengobrol di telpon dengan siapa aku pun tak tahu. Tapi kelihatannya dia senang dan tak jarang dia pun pergi entah kemana dan bersama siapa. Aku masih saja memakluminya karena rasa percayaku kepada istriku. Namun entah kenapa aku merasa istriku sangat berubah, bahkan dia begitu tak menghormatiku sebagai suaminya.

Suatu hari aku menunggunya pulang di depan pintu, dan benar saja dia pulang larut malam lagi. Jam menunjukan pukul 2 dini hari, dia pulang dan tanpa rasa bersalah dia tak meminta maaf kepadaku bahkan dia sangat marah ketika ku tanya dari mana. "Aku tuh capek tau, seharian kerja, kamu ga usah tanya aku dari mana.." cetus dia kepadaku.
Aku lagi-lagi mengalah dan tak memperkeruh keadaan. Hembusan nafasku terasa dan seakan penyesalan begitu mendalam. Andai saja dulu tak ku ijinkan dia kerja di luar, mungkin keadaannya berbeda.

Hampir satu tahun semenjak dia bekerja di luar, sejak itu pula sikap dia berubah. Aku yang saat itu menjadi suaminya selalu saja mengalah, sampai akhirnya aku ambil sikap dan coba memintanya untuk berhenti dari pekerjaannya. "Dari dulu aku selalu mengalah, kamu berubah, bahkan sepertinya kamu lupa akan kewajibanmu sebagai istriku!" kataku kepadanya. Dia hanya diam lalu pergi ke kamar dan tidur. Sungguh habis kesabaranku, aku memang suami yang selama ini mengalah sama istriku. Tapi itu ku lakukan demi rumah tanggaku yang hampir dua tahun ini belum juga di karuniai seorang anak. Karena memang tiap malam aku seperti tidur seorang diri.

*sambung part II

Gambar: instagram/rian_wf

Selasa, 20 Oktober 2015

Sejarah Kota Tua Jakarta

Kota Tua Jakarta juga di kenal dengan sebutan Batavia Lama (Old Batavia) adalah wilayah kecil di Jakarta, Indonesia. Wilayah khusus ini memiliki luas 1, 3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara, dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka).

Dijuluki sebagai "Permata Asia" dan "Ratu Dari Timur" pada abad ke-16 oleh pelayar eropa, Jakarta Lama di anggap pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah.

Dalam Sejarahnya Tahun 1526, Fatahillah, dikirim oleh Kesultanan Demak, menyerang pelabuhan Sunda Kelapa di kerajaan Hindu Pajajaran, kemudian dinamai Jayakarta. Kota ini hanya seluas 15 hektare dan memiliki tata kota pelabuhan tradisional Jawa. Tahun 1619, VOC menghancurkan Jayakarta di bawah komando Jan Pieterszoon Coen. Satu tahun kemudian, VOC membangun kota baru bernama Batavia untuk menghormati Batavieren, leluhur bangsa Belanda. Kota ini terpusat di sekitar tepi timur Sungai Ciliwung, saat ini Lapangan Fatahillah.

Penduduk Batavia disebut "Batavianen", kemudian dikenal sebagai suku "Betawi", terdiri dari etnis kreol yang merupakan keturunan dari berbagai etnis yang menghuni Batavia.

Selengkapnya silahkan baca Wikipedia.

Senin, 24 Agustus 2015

Karena Dia-lah Kita Bertemu...

Mungkin pada akhirnya kau menjauh, atau aku yang akan pergi? entahlah, pertanyaan itu sering menggangguku di pertengahan malam seperti ini.

Awalnya, perjalanan penuh harap, seiring waktu berlalu berjalan meninggalkanku. Entahlah apa yang aku ucapkan, namun yang pasti doa terbaik selalu terucap dalam setiap sujudku kepadaNya.

Rasa hati ingin bertemu, niatkan suatu yang baik, namun ku rasa tak perlu. Karena mungkin kau tak menginginkan aku terlalu dalam menatapmu dengan penuh harapan.

Terakhir, ku ukir namamu dalam tasbihnya kepadaNya, ku pasrahkan sepenuhnya jiwa dan ragaku kepadaNya. Karena Dia-lah kita bertemu, dan takdirNya-lah yang akan menjauhkan.

Lombok, 24 Agustus 2015
Rian

Picture: Instagram @rian_wf

Minggu, 23 Agustus 2015

Taman Kota Giri Menang, Lombok Barat

Tak ada habisnya apa bila kita membahas keindahan di Lombok, baik itu pantainya, gunung (Rinjani, red) atau alam lain seperti air terjun, bukit-bukit dan tempat wisata lainnya.

Bagi traveller yang sedang atau hendak berlibur di lombok, berikut ini salah satu recomendasi tempat yang tak kalah indah di pusat kota Lombok barat, yakni Taman Kota Giri Menang, Lombok Barat.

Pusat pemerintahan Kabupaten Lombok Barat salah satu alasan yang menjadikan Taman ini tertata rapi, bersih dan tentunya Indah. 

Pemandangan sunsetnya pun teramat sayang untuk di lewatkan. Apalagi kalau cuaca sedang cerah, golden hours menjadi moment terindah anda dan pasangan.

Lokasinya pun mudah di cari, bila anda datang ke lombok menggunakan pesawat terbang maka dari airport ambil arah ke barat sekitar 1h perjalanan mengunakan taxi/travel. Kemudian bagi anda yang datang dari bali menggunakan kapal (menyebrangan Pelabuhan Padang Bai, Bali - Pelabuhan Lembar, Lombok) maka anda ambil jalan lurus ke utara atau mengikuti jalur ke arah Kota Mataram. Anda akan melintasi Bundaran Gerung, Lombok barat dan langsung ambil kanan (atau memutar, karena jalan lurus menuju Mataram). 

Taman Kota Giring Menang juga menyuguhkan pemandangan Kolam yang terdapat di dalam taman. Bagi anda yang suka fotografi sayang untuk di lewatkan mengambil moment foto anda disini.

Sangat pas juga apa bila anda duduk-duduk di taman bersama pasangan saat sore hari maupun malam. Jangan khawatir soal cemilan, karena di depan juga banyak pedagang yang menyediakan Kopi dan cemilan ringan. 

Itulah ulasan singkat tentang Taman Kota Giri Menang, Lombok Barat. Bagaimana apakah anda tertarik untuk liburan ke lombok? 

Semoga artikel ini membantu anda yang sedang mencari referensi tempat hangout/nongkrong di lombok.

Berikan komentar anda di kolom dibawah ini, kemudian share artikel ini kepada rekan, teman, sahabat dan keluarga anda yang belum tahu. Terimakasih


Sumber picture: @rian_wf (Instagram)

Permainan Gasing di Lombok

Jaman boleh berubah, teknologi semakin canggih yang kemudian kita kenal gadget. Ditambah lagi dengan dunia Internet yang membuat orang "lupa diri" apa lagi adanya game online. Bahkan ada sebuah ungkapan bahwa Handphone/Smartphone dapat mendekatkan yang jauh (postif) namun menjauhkan yang dekat (negatif). Benarkah?

Namun tidak dengan permainan tradisional yang satu ini, Gasing. Permainan ini masih lestari sampai saat ini, dan masih di mainkan oleh orang tua sampai yang muda. Permainan Gasing ini begitu lestari di Lombok, namun mungkin hanya beberapa orang saja yang masih memainkannya. Seperti foto di bawah ini, yang saya abadikan tahun lalu (2014) di Desa Kopang Rembiga Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Menurut sumber yang saya baca di Wikipedia Indonesia, Gasing atau Gangsing adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkeseimbangan pada suatu titik. Gasing merupakan mainan tertua yang ditemukan di berbagai situs arkeologi dan masih bisa dikenali. Selain merupakan mainan anak-anak dan orang dewasa, gasing juga digunakan untuk berjudi dan ramalan nasib
Sebagian besar gasing dibuat dari kayu, walaupun sering dibuat dari atau bahan-bahan lain. Kayu diukir dan dibentuk hingga menjadi bagian badan gasing. Tali gasing umumnya dibuat dari nilon, sedangkan tali gasing tradisional dibuat dari kulit pohon. Panjang tali gasing berbeda-beda bergantung pada panjang lengan orang yang memainkan.

Berikut beberapa foto dokumen pribadi yang di ambil dari Instagram @rian_wf : 

Terimakasih sudah berkunjung ke blog ini, silahkan berikan penilaian untuk artikel ini di kolom bawah, jangan lupa berlangganan juga untuk membaca artikel lainnya.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Teruntukmu maduku....

Bissmillah..

Teruntukmu yang kelak menjadi maduku, menjadi bidadariku, semoga engkau senantiasa dalam lindungan-Nya, senantiasa perbaiki diri dalam sujudmu kepada-Nya.

Teruntukmu yang kelak aku jaga dalam tuntunanku kepada-Nya, semoga engkau senantiasa istiqomah di jalan-Nya, senantiasa berkhusnudzon kepada-Nya.

Teruntukmu yang kelak di sandingkan bersamaku atas kehendak-Nya, semoga engkau senantiasa tak pernah lelah dalam berdoa, senantiasa meminta yang terbaik kepada-Nya.

Akhirnya..
aku hanya mampu berdoa dalam setiap sujudku kepada-Nya, aku hanya mampu perbaiki setiap perkataan dari mulutku, dan senantiasa menjaga hatiku untukmu.

Lombok, 22 Agustus 2015
Rian

Jumat, 21 Agustus 2015

Lombok - Nyongkolan dan Gendang Beleq

Lombok tidak hanya kaya akan alam nya saja, tapi juga adat istiadat dan budaya nya yang masih dilestarikan sampai saat ini. Kali ini yang kita bahas adalah Nyongkolan dan alat musik pengiringnya yakni Gendang Beleq

Nyongkolan adalah sebuah kegiatan adat yang menyertai rangkaian acara dalam prosesi perkawinan pada suku Sasak, di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Kegiatan ini berupa arak-arakan kedua mempelai dari rumah mempelai pria ke rumah mempelai wanita, dengan diiringi keluarga dan kerabat mempelai pria, memakai baju adat, serta rombongan musik yang bisa gamelan atau kelompok penabuh rebana, atau disertai Gendang Beleq, pada kalangan bangsawan.

Dalam pelaksanaannya, karena faktor jarak, maka prosesi ini tidak dilakukan secara harfiah, tetapi biasanya rombongan mulai berjalan dari jarak 1-0,5 km dari rumah mempelai wanita.

Tujuan dari prosesi ini adalah untuk memperkenalkan pasangan mempelai tersebut ke masyarakat, terutama pada kalangan kerabat maupun masyarakat dimana mempelai perempuan tinggal, karena biasanya seluruh rangkaian acara pernikahan dilaksanakan di pihak mempelai laki-laki.

Sebagian peserta dalam prosesi ini biasanya membawa beberapa benda seperti hasil kebun, sayuran maupun buah-buahan yang akan di bagikan pada kerabat atau keluarga mempelai perempuan nantinya. Pada kalangan bangsawan urutan baris iring-iringan dan benda yang di bawanya memiliki aturan tertentu.Hingga saat ini Nyongkolan masih tetap dapat di temui di Lombok. Iring-iringan yang menarik masyarakat untuk menonton karena bunyi suara gendang ini diadakan selepas Dhuhur di akhir pekan.

Gendang Beleq adalah alat musik Tradisional yang dimainkan secara berkelombok. Gendang Beleq berasal dari suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Asal kata gendang berasal dari bunyi gendang itu sendiri, yaitu bunyi deng atau dung. Beleq berasal dari bahasa Sasak yang artinya besar. Jadi, Gendang Beleq itu artinya Gendang Besar.Sumber tulisan: Wikipedia

Picture: Instagram @rian_wf

Untuk melihat video Nyongkolan dan Gendang Beleq bisa klik link dibawah ini:

https://youtu.be/b-7X6J6y_xM

Jumat, 07 Agustus 2015

Ini lah tempat liburan yang "cocok" bagi anda dan pasangan

Bagi anda yang suka dengan keindahan pantai, lombok mungkin akan menjadi alternatif anda dan pasangan. Iya, lombok terkenal indah akan pantainya, pun demikian salah satu tempat yang akan saya share disini. Gili Trawangan, salah satu tempat berlibur yang mungkin "berbeda" dan tentunya special bagi anda dan pasangan.
lombok menjadi buruan wisatawan setelah bali (mungkin). pantai-pantainya yang indah menjadi alasan mengapa banyak wisatawan (lokal maupun dari luar) untuk datang kesini. Tak pelak, mereka rela datang dari jauh (luar negeri) dan menghabiskan waktu (dan uang) di lombok. 

Banyak pantai yang menjadi pilihan di lombok seperti pantai senggigi (lombok barat), pantai mawun (lombok tengah), pantai surga (lombok timur) dan tentunya pulau-pulau kecil (gili) yang ada di lombok.
Gili Trawangan salah satu dari tiga gili yang ada di Kab. Lombok Barat (Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno). Gili Trawangan juga yang paling banyak di minati wisatawan (lokal dan mancanegara). Dengan hanya IDR 15-20k biaya penyebrangan perahu (umum) dari pelabuhan bangsal, atau IDR 300-800k menggunakan kapal boot. 

Untuk sampai di pelabuhan bangsal, anda bisa naik mobil travel dari Bandara Internasional Lombok (BIL) kisaran harga IDR 200-300k (mungkin bisa lebih murah dengan nego). Perjalanan bisa di tempuh -+ sekitar 2-3h dari BIL (karena posisi BIL terletak di Kab. Lombok Tengah). 
Salah satu yang menjadi "beda" adalah tidak adanya polusi udara di Gili Trawangan. Karena disini anda tidak akan menemui kendaraan seperti motor (mungkin dilarang juga sih). Semua akses disini menggunakan cidomo (kendaraan transportasi dengan menggunakan tenaga kuda). Selain itu ada juga sepeda yang bisa anda pakai melalui jasa penyewaan (sekitar IDR 30-45k perjam). 

Anda dan pasangan bisa mengelilingi gili trawangan dengan menggunakan sepeda, dan melihat indahnya pantai di Gili Trawangan. Untuk anda yang ingin bermalam, tersedia hotel/penginapan dengan harga yang berpariatif (tergatung hotel). Tapi apa bila tidak menginap pun tersedia kapal untuk membawa anda mwnyebrang (pulang). Biasanya ada sekitar mulai Jam 3-6 sore, kalau cuaca sedang tidak baik mungkin sampai jam 4 sore saja.
Gili Trawangan juga tersedia jasa sewa alat untuk snockling, daiving (maaf kalau tulisannya salah :D) untuk melihat keindahan bawah laut dengan aneka jenis ikan di sekitaran pantai. Bisa sewanya variatif juga, saya kurang tau percis nya berapa (bukan belum pernah, tapi lupa berapa :D soalnya tahun 2013 yang lalu) tapi yang jelas anda juga di manjakan dengan fasilitas umum lainnya, seperti resto, cafe, atm, toilet umum, tempat pijit (kalau yang ini saya belum :D) live music, bar, dan lainnya.
Jadi, apa anda berminat liburan di lombok? dan Gili Trawangan masih menunggu anda dan pasangan :)

Terakhir dari saya, jangan lupa buanglah sampah pada tempatnya :D jangan kotori pantai yaa :D :)
Sekian artikel dari saya tentang Gili Trawangan, kalau ada yang mau di tanyakan silahkan langsung saja di kolom komentar. Berikan juga penilaian anda (Bagus, Menarik atau Keren) di menu paling bawah. Jangan lupa berlangganan blog saya ini, atau bisa follow Google+ saya yang tersedia di sebelah kanan atas. Terimakasih.