Iklan

AdSense

Minggu, 26 Juni 2016

Cerpen: Aku memandanginya dari kejauhan...

Aku memandanginya dari kejauhan, tampak terlihat raut wajahnya pucat dan lelah.
Dengan tangan gemetar nya, dia mengambil air minum di sebuah cangkir gelas seperti biasanya.
Ku perhatikan perlahan dia meminum air putih itu, "glek..glek..glek.." sampai habis tak tersisa.
Lalu seketika mulutnya seperti berucap beberapa kata, "Alhamdulillah" dia berucap syukur.
Padahal hanya meminum air putih satu gelas, pikirku.
Dia memang sudah tak lagi muda, iya terlihat dari rambut yang hampir tak ada lagi yang berwarna hitam. Kerut keriput di wajahnya pun sangat jelas ku lihat, ditambah gerakan nya yang mulai melambat. Ah kasihan dalam hati aku bergumam, menghela nafas dan seakan aku hanya bisa mengelus dada.
Sepanjang hidupnya dia bekerja untuk kami sekeluarga, tanpa mengeluh sedikitpun, bahkan wajahnya tak pernah kelihatan marah.
Setiap pagi pergi ke sawah, setelah hampir sepuluh tahun pensiun sebagai pendidik. Karena katanya kalau mengandalkan uang pensiunan, tak bisa mencukupi kebutuhan.
Air mata tanpa terasa menetes keluar dari mataku, ah rasanya tak kuat aku melihatnya seperti itu. Sedih, padahal sudah aku bilang istirahat saja di rumah, biarkan aku saja yang bekerja. Tapi tetap saja dia tak mau, karena katanya, "Pendidikan itu penting, untuk masa depan kamu juga nantinya.." ujarnya dengan suara pelan dan batuk-batuk yang sangat menganggu.
Ku hapus air mataku, lalu aku berjalan kearahnya perlahan.
"Yah..." ku panggil dengan suara pelan.
Dia menengok ke arahku, sambil menyambut ku dengan senyuman.
Ku cium tangannya, "baru pulang A?" katanya, "iya yah..." sahutku.
"Kok ga kedengaran salamnya?" lanjutnya
"Iya, Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.." jawabnya sambil tak hentinya tersenyum ke arahku.
"Alhamdulillah yah, Aa Minggu depan udah bisa sidang skripsi. Doain Aa yaa yah..."
Dia tersenyum lagi, seperti merasa bangga anak laki-laki nya sudah mau lulus kuliah.
Karena memang aku anak yang tertua, dan juga satu-satunya. Kedua adikku perempuan, yang juga bersekolah di SMA dan si bungsu di sekolah dasar.
Namun aku harus menerima kenyataan pahit ini, padahal hari ini tepat aku di wisuda.
Aku tak tahu harus bahagia atau sebaliknya, karena di hari ini pula bertepatan dengan 40 hari kepergian ayahku.
Aku yang belum bisa membahagiakan, padahal katanya dia ingin sekali melihat ku lulus kuliah dan di wisuda. Pasti dia bangga, karena hanya itu yang di inginkan.
"Yah... Aa di wisuda, ayah yang tenang disana yaa..doa Aa selalu untuk ayah di surga.." gumamku dalam hati
Ibuku yang dari kejauhan tampak berkaca-kaca, melihatku akhirnya berhasil juga. Mungkin ibu pun bangga, sama seperti ayah.
Pada akhirnya aku berusaha tegar, walau kadang sering aku melamun dan berandai-andai. Andai saja ayah masih ada, sepanjang hidupnya aku ingin membuat nya bangga. Dan tak mau membuat nya marah atau pun kesal, karena sikapku yang kadang tak tahu diri.
Walaupun ibu orang pertama yang paling berjasa dalam hidup ku, yang mengandungku 9 bulan, menyusuiku, membesarkanku, tapi ayah, pun demikian, sama seperti ibu.
*Buatlah bangga kedua orang tua, selagi beliau masih ada.
Moga bermanfaat..
Jakarta, 9 April 2016

Cerpen fiksi di tulis oleh Rian Rinaldi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar