Iklan

AdSense

Jumat, 17 Januari 2020

Cerpen: AKU BUKAN KEKASIHNYA, NAMUN AKU AKAN MENJAGANYA

Cerpen: AKU BUKAN KEKASIHNYA, NAMUN AKU AKAN MENJAGANYA
Oleh: Rian Rinaldi


Hujan yang sangat deras turun di malam itu, suasana hening, sepi dan sunyi menyelimuti kamarku. Sesekali terdengar suara petir yang menyambar, menambah horornya di kamis malam saat itu. Benar! Aku ketakutan! Bahkan bulukuduk ku entah mengapa berdiri, karena saat ku lihat jam di dinding menunjukkan pukul 2 pagi. Saat itu aku memang terbangun dari mimpi buruk yang menyeramkan. Aku bermimpi mati! Iya mati! Aku yang melihat mimpi itu begitu nyata, bahkan sampai nafas terakhir ku dalam mimpi itu tak ada yang menolongku.

Aku meninggal dalam keadaan berlumuran darah, kecelakan saat mengendarai sebuah mobil sedan milikku. Mobilku menghindari sebuah tabrakkan beruntun di depanku, ku lihat 3 mobil kecelakaan di depanku. Oh my god, ku pikir sangat tepat aku menghindari tabrakkan tersebut. Aku membanting stirku ke arah kanan, dan benar saja aku terhindar dari mobil yang berada di depanku, yang sudah terlanjur menabrak mobil di depannya. Namun apa daya, ternyata aku hilang kendali yang seharusnya rem yang ku injak, malah pedal gas yang membuat mobilku semakin kencang dan masuk ke jurang. Naas memang, kejadiannya tengah malam dan jurang itu sangat dalam. Aku jatuh tak terhindarkan, dan mobilku terbanting tak karuan. Hingga akhirnya ku lihat, aku terbaring lemas tak berdaya, karena darah yang keluar dari kepala ku membuatku tak mampu bertahan. Beberapa menit kemudian aku mati! Walau sempat ku coba meminta tolong, berteriak semampuku namun sia-sia. Aku meninggal tragis dan untungnya hanya sebuah mimpi.

Saat aku terbangun dengan keringat dingin di seluruh tubuhku dan perasaan yang tak karuan. Ku dengar suara gonggongan anjing di luar rumah, lalu hujan pun turun. Aku tak mampu bangun dari tempat tidurku, aku masih terbayang dengan mimpiku tadi yang seperti nyata. Entahlah pertanda apa ini, walau dalam pikiranku itu hanya mimpi buruk yang tak ada artinya. Jam menunjukan pukul 3 pagi dan aku masih belum bisa tidur, walaupun hujan di luar sudah reda dan tak deras lagi. Aku coba bangun dari tempat tidur, hendak ke luar kamar untuk mengambil minum. Tiba-tiba suara gaduh berbunyi gubraakkkk grubakkkkk dan sautan suara kucing mengeong seperti kelaparan atau apa. Aku buka pintu kamarku dan coba mengeceknya, dan ku lihat benar saja hampir seisi dapur berantakkan akibat kucing tadi. Aku menghampiri ruangan itu, dan tak ku lihat ada kucing disana. Dalam hatiku berkata, "kucing sialan kemana kau perginya.." namun belum sempat aku membereskan pecahan piring itu, ku dengar suara mengeong dari ruangan lain. Kali ini suaranya makin cepat, "meong.. meong.. meong.. meong.." dan di luar pun tak kalah, dengan suara anjing yang masih saja menggonggong seperti melihat sesuatu. Namun tak ku pedulikan semua itu, aku membereskan pecahan piring tersebut, dan setelahnya langsung mengambil air minum.

"Glekkk.. Glekkk.. Glekkk.." suara air masuk ke dalam mulutku. Aku memang haus, rasanya seperti habis balapan lari saja. Huh

Setelah itu aku kembali ke kamarku, dan kembali melihat jam menunjukkan hampir jam 4 pagi. Dan aku memutuskan untuk tidak melanjutkan tidurku, karena sebentar lagi juga subuh pikirku. Lalu aku ambil laptopku, dan menyalakannya. Karena sebenarnya nanti pagi aku harus mempresentasikan sebuah project kepada salah satu klien. Aku buka materi presentasiku, dan ku baca lagi dari awal sampai akhir. Ku pahami lagi isi nya, karena aku tak ingin menyia-nyiakan tander ini dan kali ini harus goal! Aku tak ingin gagal lagi, dan terpuruk lagi seperti 2 tahun yang lalu.

Aku ingat waktu itu, aku bekerja sebagai atasan. Aku membawahi banyak karyawan, dan memang cukup bagus kerjaku saat itu. Sebelum akhirnya aku di pecat secara tidak hormat oleh perusahaan, karena di tuduh menggelapkan uang perusahaan. Bagai di sambar petir rasanya, aku di fitnah melakukan apa yang tidak aku lakukan. Untung waktu itu aku dapat membuktikannya di meja hijau, bersama dengan pengacaraku aku membela diri karena tak sedikitpun melakukan tindakkan kriminal seperti yang di tuduhkan kepadaku. Walaupun aku di nyatakan tak bersalah, bukan berarti posisiku di kantor itu seperti sebelumnya. Aku tetap di pecat dan tak mendapatkan pesangon sedikitpun. Bagiku tak masalah, yang terpenting adalah nama baikku kembali lagi. Kemudian tak berselang lama, singkat cerita, aku mendapatkan pekerjaan baru di perusahaan yang sekarang aku jalani. Tapi kali ini aku sebagai tim leader bagian kreatif untuk mengurusi project-project sebuah iklan untuk beberapa produk. Beberapa di antaranya, goal dan di terima klien.

"Good luck yaa, kris?" sapa teman sekantorku lina. Aku balas "iya lin.." dengan senyum manisku. Sebenarnya ucapan itu biasa aja, hanya sekedar support dari seorang teman. Tapi entah kenapa setiap kali kita bertemu dengannya jantungku seakan berdebar tak menentu. Hah jadi kayak abg saja yang sedang jatuh cinta. Maybe, karena sebenarnya aku sudah lama menjomblo, sekitar 2 tahunan. 

Dulu kita pacaran lama, 4 tahun dari semenjak awal kuliah. Namanya desi, satu-satunya mantan pacarku yang sekarang sudah menjadi istri orang. Dia baik sebenarnya, setia juga sama aku, tapi orang tuanya tak setuju dengan aku yang katanya tak punya masa depan. Padahal dulu mereka setuju, tapi karena aku memutuskan untuk kerja sehabis kuliah, dari semenjak itu mereka ragu kepadaku. Belum lagi desi pacarku waktu itu tak bisa menolaknya, akhirnya dia di jodohkan dengan laki-laki lain.

Baiklah kita lupakan masa laluku itu, karena aku harus fokus dengan pekerjaan ku saat ini. Aku memang bukan pria dari yang suka mengeluh, aku juga selalu terlihat tenang dan serius. Buhkan teman sekantorku sering bilang "kamu tuh serius banget sih kris, awas stress loh..." haha iya itu kata-kata yang sering ku dengar belakangan ini. Tapi walaupun terlihat serius, aku juga sebenarnya suka becanda walaupun lebih sedikit.

Selesai menunaikan shalat subuh, aku sempat joging di sekitaran komplek tempat tinggalku. Iya, aku memang saat ini tinggal sendiri di rumah. Karena semenjak aku lulus kuliah dan bekerja di luar kota, ku tinggalkan kedua orang tuaku di kampung. Walaupun memang, saat aku kuliah sempat tinggal di kos-kosan. Bisa di bilang keluarga semua tinggal di kampung, jauh dari kehidupan perkotaan. Ibu dan bapakku hanya seorang buruh tani, yang penghasilannya hampir semua dari hasil pertanian.

Aku lelaki yang mandiri juga taat beribadah, walau banyak yang bilang aku ini kurang dalam pergaulan. Iya, alasannya sederhana saja, aku tidak seperti kebanyakan orang kota lainnya, yang suka pergi nongkrong-nongkrong tidak jelas. Sebagai anak tertua dari 4 bersaudara, aku belum bisa jadi kebanggaan orang tua. Ya, karena sejujurnya aku ingin sekali memberangkatkan haji kedua orang tuaku. Tapi walaupun begitu, tiap bulan sering ku kirimkan gajiku untuk membiayai adik-adikku di kampung. Maklum, adikku yang tertua yang laki-laki, saat ini duduk di bangku kuliahan. Sedangkan adikku yang perempuan di sekolah menengah kejuruan, dan yang terakhir berusia 8 tahun di bangku kelas 2 sekolah dasar.

Jam tanganku saat itu, kulihat sudah pukul 7 pagi, dan saatnya aku siap-siap untuk pergi ke kantor. Ku nyalakan mobil sedan kesayanganku, melaju sampai kantor tepat pukul 9. Iya, 2 jam perjalananku memang terasa lama. Padahal biasanya kalau tidak macet, cukup menempuh 1 jam perjalanan. Kemacetan pagi itu di sebabkan oleh sebuah kecelakaan di depan sebuah SPBU, ku lihat mobil sedan putih hancur. Di sebelahnya tampak mobil jeep yang juga terlihat tidak karuan, mungkin karena sebuah tabrakan hebat terjadi disana. Aku juga melihat sebuah ambulance yang membawa korban, tak jelas memang ada berapa korban pagi itu. Namun yang pasti ini bukan mimpi, dan aku juga untungnya bukan bagian dari korban tersebut.

Sesampainya di kantor, aku masuk dan mulai menuju lift yang biasa ku pakai menuju ruanganku di lantai 5. Tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan, "kris...." sebuah panggilan dari arah kejauhan, ku lihat ternyata lina teman kantorku. Aku melihat kearahnya, dan ku buka kembali lift yang hampir tertutup itu. Dia menuju kearahku, dan ikut masuk ke dalam lift. Kita memang kebetulan satu ruangan, dan ada dalam satu tim juga. "Gimana udah siap presentasi hari ini?" tanya dia dengan sedikit senyum manja di wajahnya. Entah kenapa pagi itu dia terlihat lebih seksi dari biasanya. Dia memakai kemeja putih, dengan rok hitam yang tidak seperti biasanya terlihat agak "mini". Waw aku agak " kikuk" pagi itu, hahaa. Tapi segera ku jatuhkan pandanganku ke arah lain sambil berkata, "iya, sudah kok" jawabku sedikit grogi.

Dia memang cantik, seksi dan menawan. Tapi kalau boleh jujur, dia bukan kriteria calon istriku. Karena aku masih menginginkan wanita yang shaleha, yang menutup auratnya sesuai tuntunan agama. "Tumben jam segini baru datang? Telat bangun ya?" tanya dia genit. Aku yang dari tadi grogi, tanpa menatapnya menjawab "gak kok, td macet aja di jalan.." dia tanpa menjawab, hanya menganggukkan kepalanya dan senyum.

Tak lama kemudian sampailah kita di ruangan, di lantai 5 tepatnya. Aku memang tipe pria serius yang dari tadi hanya diam, kecuali dia mengajakku ngobrol. Maka tak heran walaupun dia sering kali sedikit menggodaku, aku tetap "lurus" begitulah.

Pukul 10 lewat 30 menit, aku mempresentasikan project kepada klien. Dalam presentasi itu, seperti biasanya aku fokus dan terlihat sangat serius. Sekitar kurang lebih 2 jam kita di ruang meeting bersama klien, aku memimpin rapat itu dan hasilnya, klien puas terhadap paparan dan penyampaian aku tadi. Huh lega rasanya kali ini semua berjalan sesuai dengan yang di harapkan, dan hari itu banyak pujian yang ku dapat. "Selamat ya kris, akhirnya semua berjalan dengan lancar.." sapa lina dengan mata genitnya. Haduh lagi-lagi aku salah fokus, tapi tetap aku masih dapat mengontrolnya. Walaupun tetap senyum terbaikku menjawab dia dengan sedikit malu.

Beberapa bulan setelahnya ku lihat dia tak lagi ada di kantor, yang ku dengar dia mengundurkan diri. Entah lah, aku tak begitu tau alasannya kenapa. Aku juga tak mau mencari tau, karena ku anggap dia hanya sebatas teman sekantor saja. Saat aku sedang merapihkan meja kerjaku, dan siap-siap untuk pulang, tiba-tiba dering HP ku berbunyi. "Halo kris.." ku dengar suara wanita dalam panggilan masuk itu. "Iya, ini siapa ya?" jawabku yang memang tak tahu dengan nomor baru yang masuk. "Ini aku lina.." suara yang kudengar memang cukup ku kenal. "Lina? Oh ya ampun, kamu dimana lin?" tanyaku lagi yang sedikit tak percaya dia yang sudah lama menghilang tak ada kabar. "Kamu masih di kantor kris? Bisa ketemu sebentar? aku tunggu di cafe depan, tempat biasa.." sahut lina yang memintaku untuk menemuinya. "Iya bisa.." ujar aku yang mengiyakan permintaannya.

Setelah obrolan singkat di telpon tadi, aku segera meninggalkan kantorku, untuk menemuinya di sebuah cafe yang tidak jauh dari kantor. Aku datang dan dia memang sudah menunggu dari tadi. 

Saat itu aku sedikit tidak percaya, lina yang kutemui seperti sedang "berbadan dua" ya kelihatannya dia sedang hamil sekitar 6-7 bulan. Aku yang menghampirinya tidak bisa berkata apa-apa dan hanya terdiam sambil menyapa, "Lina?" sapaku dengan rasa tidak percaya. "Iya...ini aku" jawabnya sambil tangan kanannya memegang perut yang sudah besar tanda seorang wanita yang sedang hamil. "Kamu lagi hamil lin?" jawabku dengan untuk memastikan lagi. Walaupun itu memang jelas dia sedang mengandung. "Kamu bisa liat sediri kris..." jawab dia sambil melihat aku untuk mengalihkan pandangan ke perutnya yang sedang hamil besar.

Setelah aku duduk dan membuka obrolan sama dia, aku langsung menyapanya dengan dengan memberikan selamat kepada lina "Wah selamat ya kamu bentar lagi jadi seorang Ibu.." ku lihat lina senyum dengan tatapan berbinar seperti habis menangis. "Kamu kenapa lin?" tanyaku penasaran. Dia hanya terdiam, sambil terus memegangi perutnya. 

BERSAMBUNG......