Iklan

AdSense

Senin, 14 Desember 2015

Surgaku Ada di Suamiku (part III)

Aku rasa kebahagianku berubah ketika aku mulai bekerja, dan suamiku masih dengan usahanya. Memang keuangan kami terbantu saat aku berkerja di luar, karena suamiku akhir-akhir itu sepi pendapatannya. Keluarga kami memang masih mencukupi kebutuhan, untuk makan dan hari-hari aku masih bisa mengaturnya dari nafkah suamiku yang aku rasa sangat pas-pasan. Sungguh berat lagi ketika kami memutuskan untuk membeli rumah secara kredit, dan aku yang hanya ibu rumah tangga pada waktu itu merasa tak bisa berbuat banyak. Akhirnya dengan memberanikan diri meminta ijin kepada suamiku, aku ingin bekerja dan ikut membantu keuangan rumah tangga kami.

Awalnya, sebelum bekerja waktuku sangat banyak, bahkan aku merasa bosan di rumah. Itu salah satu alasan aku ingin bekerja di luar. Tapi setelah beberapa hari mulai bekerja, ternyata sungguh berat mengatur waktu antara pekerjaan di kantor dan di rumah. Rasa capek pun selalu datang ketika aku pulang dari kantor, dan terpaksa aku harus langsung beristirahat tanpa tau ternyata suamiku lah yang mengurus rumah kami sendirian.

Aku mulai cuek pada suamiku, bahkan sering kali kami bertengkar hebat karena masalah kecil yang menurutku tak perlu di perdebatkan lagi. Aku yang lebih sering marah-marah sama dia di rumah, padahal hati kecilku menentangnya karena dia tetap lah suamiku yang mesti aku hormati dan hargai. Tapi mungkin ego dan rasa lelah yang membuatku keras kepala, dan kadang ingin menang sendiri.

Aku ingat ketika itu suamiku menelpon ku saat aku sedang berada di ruangan meeting dengan atasanku. Aku tak mengangkatnya, karena ku pikir nanti aku akan telpon dia. Tapi handphone ku tak berhenti berbunyi dan itu panggilan masuk dari suamiku, dengan sangat terpaksa aku nonaktifkan handphoneku malam itu. Kebetulan sekali atasanku meminta ku untuk menemaninya keluar kota untuk bertemu kline yang tak dapat aku tolak, akhirnya aku mengiyakan. Setelah meeting selesai, aku aktifkan kembali handphoneku untuk mengabari suamiku. Dan kembali kami bertengkar di telpon, alasannya menurutku dia tak mengerti kondisi aku yang harus pergi ke luar kota. Dia sempat membujukku memang, tapi karena aku yang akhir-akhir ini sibuk dan capek terpancing emosi dan marah. Dengan sadar aku membentak-bentak suamiku oh my god, dalam hatiku menangis sebenarnya dengan sikapku yang begitu pada suamiku.

"Aku kerja! Kerja! Okeh?" itu kata terakhir yang ku ucapkan kepadanya dengan nada yang lumayan tinggi. Malam itu ternyata dia cuma mau aku pulang, dia udah siapin semuanya. Sungguh penyesalan ku yang teramat dalam, tapi nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terjadi. Besoknya aku mulai berpikir mau meminta maaf kepadanya, atas sikapku yang keterlaluan. Namun saat itu atasanku meminta ku untuk fokus di kerjaan dan agar tender ini goal. Akhirnya aku mengiyakan untuk fokus, dan dengan sadar aku telpon suamiku yang lagi-lagi dengan nada keras. Aku memintanya untuk jangan mengganggu ku yang sedang kerja. Aku bilang juga gimana kalau aku di pecat? Dan dia akhirnya mengerti, walaupun begitu aku menangis tak kuasa menahan rasa bersalah pada suamiku. Karena tak ingin ketahuan, aku matikan saat itu telponnya walaupun pembicaran kita belum selesai. Ku pikir dia pasti sangat kecewa, dan rumah tanggaku pasti bakalan hancur.

Sepulangnya dari luar kota beberapa hari, aku pulang ke rumah dan dengan sangat terkejut suamiku menunggu dan nyambutku dengan sangat ramah seperti tak ada masalah di antara kita. "Kamu udah pulang sayang? Pasti cape kan? Aku buatin minum ya buat kamu.." kata suamiku dengan senyum terbaiknya kepadaku. Aku yang hanya diam dan benar-benar tak menyangka akan seperti ini, dan dia memperlakukanku seperti seorang putri raja. "Kamu kok jadi baik begini sama aku? Harusnya kan kamu kecewa dengan sikap aku selama ini?" tuturku dengan lembut. Dia ku lihat hanya tersenyum, yang membuatku makin aneh. "Kok senyum? Kamu sakit mas?" tanyaku pada suamiku. "Gak kok sayang, aku cuma seneng aja kamu baik-baik dan pulang ke rumah dengan keadaan utuh.." katanya kepadaku sambil menggenggam tanganku dengan mesra. Aku membalas senyumannya dan tiba-tiba air mataku menetes tak kuasa aku menahannya. Mas Reza, suamiku, memang suami yang sangat baik dan bahkan tak pernah kasar seperti orang-orang yang kadang kena pukul suaminya.

Ku cium tangan suamiku, dan dengan penuh penyesalah aku meminta maaf kepadanya. "Aku minta maaf mas, aku gagal jadi istri yang baik buat kamu.." ujarku sambil menangis tersedu-sedu menyesali sikap aku selama ini kepadanya. "Aku janji, aku janji mas, aku akan perbaiki semuanya.." kataku lagi, seraya berjanji akan memperbaiki rumah tangga kami, dengan merubah sikapku. "Aku sudah putuskan untuk keluar dari kantorku mas, aku mau berhenti.." ku tatap wajahnya yang ku lihat dia diam melihat kearahku. "Aku ga mau kehilanganmu mas, aku ga mau rumah tangga kita rusak.." bujukku lagi. "Sayang.. Kamu ingat ga? Ketika kita menikah dan saling berjanji di hadapan Tuhan. Kita akan selalu setia sampai akhir, sampai Tuhan menjemput. Aku juga sudah janji sama kamu untuk selalu jaga kamu dengan baik, aku juga janji sama alm. Ibu ku, ga akan tinggalin kamu apapun keadaannya.." bisik suamiku dengan tangan kanannya yang memegang pipiku lembut. Aku tak kuasa, ku peluk suamiku dan menangis terharu. Entah perasaan apa waktu itu yang ku rasa, antara menyesal, sedih, seneng atau apa. Yang jelas aku mencintai suamiku, bagiku dia adalah surga yang ku miliki, surga yang begitu indah, surgaku ada di suamiku. Aku sangat beruntung memilikinya, dia yang selalu memperjuangkan dan mempertahankan rumah tangga kami.

SELESAI

Gambar: instagram/rian_wf

1 komentar:

  1. ada ga ya cwok kayak gitu?rasanya pingin bgt mendapatkan cwok seperti hiks..hiks..

    BalasHapus