Iklan

AdSense

Sabtu, 12 Desember 2015

Surgaku ada di suamiku

-Surgaku Ada di Suamiku-
Karya: Rian

Jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya, entah perasaan apa yang membuat ku lelah seperti habis berlari kencang. Saat itu yang ku ingat adalah, kata-kata cacian yang ku terima dari seorang wanita yang ku cinta. Nama nya anggi, teman satu kelas ku saat kuliah 2 tahun yang lalu. Dia wanita karir yang bekerja di salah satu perusahaan swasta di jakarta, sedangkan aku seorang yang sibuk dengan usahaku yang sudah aku rintis semenjak kuliah.

Aku ingat sekitar 4 tahun yang lalu, aku berusaha merintis usaha pulsa keliling. Ya, jualan pulsa adalah usaha pertamaku di kampus. Setiap hari ada saja teman yang membeli pulsa dariku, tapi lebih sering mereka berhutang yang akan di bayarnya setiap awal bulan.

"Bro kirim pulsa ya 25 ribu, bayarnya biasa bulan depan.." saat aku baca pesan singkat dari temanku yang minta di kirimi pulsa seperti biasanya. Tanpa aku balas, aku langsung kirim pulsa sesuai yang dia minta. Singkat cerita usahaku mulai berkembang, dan aku buka konter pulsa di rumah orang tuaku.

2 tahun kemudian aku lulus kuliah dan mulai menjalani usaha konter yang aku anggap bisa membantu kedua orang tuaku yang hanya seorang pensiunan guru dan ibu rumah tangga. Penghasilanku bisa di bilang lumayan, setiap hari 300 ribu pulsa habis terjual, belum lagi dari teman-teman yang menjadi langganan pulsaku.

Aku ingat, ketika kuliah, aku berkenalan dengan wanita yang kemudian ku kenal dengan nama anggi. Dia pintar, mandiri dan tentu nya cantik dengan rambut panjang yang lurus terurai. Kemudian aku memutuskan untuk melamarnya setelah kita berpacaran selama 1 tahun lebih.

Awalnya dia sangat perhatian kepadaku, dia juga pintar sekali memasak. Setiap hari aku di masakannya makanan kesukaanku, sayur asem dan ayam kecap. Benar, itu memang sederhana tapi buatku special karena istriku sendiri yang memasak.

"Sayang, makasih ya.." puji ku kepada istriku, dia hanya menjawabnya dengan senyum manisnya, sungguh beruntung aku punya istri sebaik dia.

Beberapa bulan setelah pernikahan kita, istriku meminta ijin kepadaku untuk bekerja karena mungkin bosan di rumah hanya sebagai ibu rumah tangga. Dan juga katanya dia ingin bantu keuangan keluarga, agar kelak bisa beli rumah sendiri. Iya, kami memang setelah menikah langsung memutuskan untuk mengontrak rumah, karena kami pikir ingin membangun rumah tangga yang mandiri tanpa bantuan orang tua atau mertua.

Akhirnya aku mengijinkannya untuk mencari kerja di luar, sedangkan aku masih tetap dengan usaha konter pulsaku yang memang akhir-akhir ini sepi. "Iya aku ijinkan kamu kerja, asalkan kamu bisa jaga diri dan tetap kewajiban kamu sebagai istri tidak kamu lupa.." jawabku saat itu. Dia tersenyum, menarik tangan kananku dan menciumnya. Aku pikir ini keputusan yang tepat, walaupun aku sempat ragu jika nanti dia bekerja di luar pasti pekerjaan di rumah terabaikan.

Benar saja, baru satu minggu dia bekerja, pekerjaan di rumah banyak yang tak terpegangnya, akhirnya aku yang tiap kali dia pulang larut malam yang membereskan pekerjaan di rumah. Memang saat itu aku memakluminya karena dia bilang, pekerjaan kantornya banyak dan harus lembur.

Beberapa minggu setelahnya aku merasa istriku bukan wanita yang ku kenal dulu, dia yang lembut, perhatian dan sifat-sifat baik yang ku banggakan dulu sekejap berubah. Dia tak pernah lagi memperhatikanku, bahkan tiap malam aku tidur seperti sendirian. Dia juga beberapa kali pernah ku pergoki sedang mengobrol di telpon dengan siapa aku pun tak tahu. Tapi kelihatannya dia senang dan tak jarang dia pun pergi entah kemana dan bersama siapa. Aku masih saja memakluminya karena rasa percayaku kepada istriku. Namun entah kenapa aku merasa istriku sangat berubah, bahkan dia begitu tak menghormatiku sebagai suaminya.

Suatu hari aku menunggunya pulang di depan pintu, dan benar saja dia pulang larut malam lagi. Jam menunjukan pukul 2 dini hari, dia pulang dan tanpa rasa bersalah dia tak meminta maaf kepadaku bahkan dia sangat marah ketika ku tanya dari mana. "Aku tuh capek tau, seharian kerja, kamu ga usah tanya aku dari mana.." cetus dia kepadaku.
Aku lagi-lagi mengalah dan tak memperkeruh keadaan. Hembusan nafasku terasa dan seakan penyesalan begitu mendalam. Andai saja dulu tak ku ijinkan dia kerja di luar, mungkin keadaannya berbeda.

Hampir satu tahun semenjak dia bekerja di luar, sejak itu pula sikap dia berubah. Aku yang saat itu menjadi suaminya selalu saja mengalah, sampai akhirnya aku ambil sikap dan coba memintanya untuk berhenti dari pekerjaannya. "Dari dulu aku selalu mengalah, kamu berubah, bahkan sepertinya kamu lupa akan kewajibanmu sebagai istriku!" kataku kepadanya. Dia hanya diam lalu pergi ke kamar dan tidur. Sungguh habis kesabaranku, aku memang suami yang selama ini mengalah sama istriku. Tapi itu ku lakukan demi rumah tanggaku yang hampir dua tahun ini belum juga di karuniai seorang anak. Karena memang tiap malam aku seperti tidur seorang diri.

*sambung part II

Gambar: instagram/rian_wf

2 komentar: